PENGECUT LUAR BIASA
Pemberani atau pengecutkah Anda? Kontemplasi saya Ramadhan
lalu melahirkan konklusi: saya adalah seorang pengecut. Ada satu peristiwa yang
membuat saya kian meyakini hal itu. Hari itu saya memutuskan untuk berbuka
puasa di restoran favorit saya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta. Mengingat
restoran selalu penuh saat waktu berbuka puasa tiba, saya memutuskan untuk
makan usai shalat magrib. Meski masih cukup banyak orang yang makan, tapi
paling tidak saya bisa mendapatkan tempat duduk.
Sambil menunggu pesanan makanan datang, saya memperhatikan
keadaan sekeliling. Para pramusaji sibuk hilir mudik mengantarkan maupun
mencatat pesanan pelanggan. Karyawan di bagian dapur pun tak kalah sibuk (saya
duduk tak terlalu jauh dari dapur). Saya bergumam dalam hati, “Kasihan sekali
mereka sibuk melayani kebutuhan perut para pelanggan. Sudahkah mereka berbuka
puasa?”
Setelah agak lama menunggu, alhamdulillah, tiba pula giliran
saya menyantap makanan. Saat makan, saya teringat sesuatu. Buru-buru saya melihat
jam di ponsel, waktu menunjukkan pukul 18.50, itu berarti sebentar lagi waktu
isya akan tiba. Saya melongok ke bagian dapur, terlihat seorang supervisor
tengah menyantap makanan sambil berdiri, agaknya dia baru sempat makan. Saya
lihat lagi ke arah dapur, wah sempit sekali, rasanya tak mungkin ada ruang bagi
mereka untuk shalat di dapur.
Saya mulai gelisah, karena pramusaji-pramusaji yang ada
masih tetap orang yang sama yang saya lihat ketika datang. Sudahkah mereka
shalat magrib? Sudahkah mereka mendahulukan kewajiban pada Allah daripada
kepada manusia?
Saya memanggil salah seorang pramusaji dan bertanya padanya
apakah dia sudah shalat magrib? Dia menjawab, “Belum”. Karena sibuk melayani
pelanggan yang berbuka puasa, dia tak sempat shalat. Saya bilang padanya,
shalat itu wajib dan ibadah yang pertama kali akan dimintai
pertanggungjawabannya oleh Allah. Saya bertanya padanya, mungkinkah bosnya yang
melarang ia untuk shalat? Saya akan melaporkannya ke dinas terkait kalau itu
yang terjadi.
Benarkah itu semua saya katakan dan lakukan? TIDAK. Semua
itu hanya fantasi yang menari dalam benak saya. Realitanya, saya hanya diam
hingga waktu isya tiba, makanan saya habis, lalu pergi meninggalkan restoran.
Ketika akan pulang, dalam mikrolet saya duduk
di bagian paling belakang, berhadap-hadapan dengan pasangan muda-mudi yang tengah pacaran. Si perempuan
terus memegang dan mengelus tangan si lelaki. Berbicara dengan manja dan
sesekali memegang wajah sang lelaki.
Saya bertanya, apakah mereka sudah menikah? Mereka
jawab, belum menikah. “Apa kalian tahu yang kalian lakukan itu perzinaan?” kata
saya. “Apa urusan lo? Urus aja urusan lo sendiri. Mau berzina atau nggak itu
urusan gue ama pacar gue. Apa hak lo ngelarang-larang!” ujar si lelaki dengan
sengit.
Benarkah itu yang terjadi? TIDAK! Itu hanya kemungkinan-kemungkinan
yang saya pikirkan dalam benak, jika saya benar-benar ‘menginterupsi’ tindakan
mereka pacaran di dalam angkot.
Nyatanya, lagi-lagi saya hanya diam dan ngedumel dalam hati,
tanpa pernah mengutarakan dan melakukan sesuatu yang menjadi tanggung jawab
saya sebagai Muslim: amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf dan nahi munkar tidak
pernah menjadi terpisah. Artinya, kita tidak bisa hanya amar ma’ruf, tapi tak
nahi munkar, atau sebaliknya. Keduanya harus kita lakukan.
Lalu apa yang saya lakukan? Saya hanya melihat mereka dan
setelah beberapa lama saya tak tahan melihat pemandangan di depan mata, saya
mengalihkan pandangan ke arah lain (baca: melengos). Begitu penumpang-penumpang
di deretan saya mulai turun, saya pilih bergeser tepat di belakang sopir, menjauh
dari pasangan muda-mudi itu. Ya, saya pilih untuk menghindar. Betapa lemahnya
iman saya. Saya kesal luar biasa pada diri saya. Mendadak saya malu pada
Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, layakkah saya disebut ummat Nabi
Muhammad? Kenyataannya, saya hanya membuat beliau malu saja.
Saya iri dengan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Ketika paman Rasulullah, Abu Thalib, menyampaikan pesan para petinggi kaum Quraisy agar Muhammad bersedia
menghentikan da’wah Islam atau mereka akan memerangi Muhammad, dengan tegas dan
berani beliau berujar, “Wahai pamanku, demi Allah, seandainya mereka meletakkan
matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan
perkara ini, sama sekali aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah
memenangkannya atau aku binasa karenanya.”
Saya iri dengan sahabat Rasulullah yang luar biasa pemberani
dalam menegakkan ajaran Islam, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Bahkan,
setan pun takut padanya. Saya iri dengan Khalid bin Walid, ksatria gagah berani
yang bergelar “Saifullah” (pedang Allah yang terhunus) dan sangat disegani
musuh-musuhnya.
Ya, pada akhirnya saya hanya bisa iri, karena tak memiliki
keberanian sebesar mereka…. Ampuni saya, ya Allah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar