A Dream Has Come True
Sejujurnya, salah satu alasan saya memilih profesi sebagai
jurnalis adalah agar bisa jalan-jalan keliling Indonesia dan luar negeri. Saya
sama sekali tak punya bakat menulis. Bapak dan Emak pun pedagang. Singkatnya,
saya sama sekali tak memiliki “darah” penulis atau jurnalis. Ketika SD pun,
pelajaran yang paling saya benci adalah Mengarang. Keinginan untuk traveling-lah yang membuat saya ngebet menjadi jurnalis.
Pada akhirnya, cita-cita menjadi jurnalis pun tercapai dan
saya bisa “jalan-jalan” ke beberapa kota di Indonesia dan luar negeri. Karena
dalam rangka tugas, destinasi liputan pun ditentukan dalam rapat redaksi dengan
berbagai pertimbangan. Sayangnya, Korea Selatan tak pernah masuk dalam daftar target
liputan. Padahal, saya sangat ingin ke sana. Rasanya, tak ada teman dekat
ataupun rekan kerja yang tak tahu mengenai ‘kegilaan’ saya pada Korea Selatan.
Saya akui, saya termasuk orang yang terjangkit virus Korea
Wave. Semua bermula ketika saya mulai gandrung menonton serial K Drama di televisi.
Selain para aktornya yang tampan dan betapa stylish-nya
mereka, melalui drama serial Korea saya juga menyadari betapa indahnya Negeri
Ginseng tersebut. Maka, mulailah muncul keinginan untuk menyambanginya.
Waktu berlalu, tiba-tiba di suatu malam pada tahun 2011 saya
mulai merenungi perjalanan hidup saya selama 34 tahun, ceileeee…. Esoknya, saya hubungi teman saya dan mulai mengoceh
tentang pentingnya menjelajahi bumi Allah yang luas ini untuk merenungi
kemahabesaran Allah melalui ciptaan-ciptaanNya. Dengan demikian, bertambahlah
rasa syukur, menguat pula iman kita dan semoga itu menjadikan kita manusia yang
lebih baik.
Akhirnya, rencana ke Korea yang semula untuk sekadar
jalan-jalan menjadi rencana perjalanan penuh makna. Saya ingin menyambangi
saudara sesama Muslim di negara yang mayoritas rakyatnya memilih tak beragama
itu. Lantas, saya hubungi seorang teman yang juga hobi jalan-jalan dan pecinta
Korea untuk sama-sama pergi ke Korea Selatan.
Tiket Murah
Langkah pertama yang kami lakukan untuk mewujudkan impian ke
Korea adalah berburu tiket promo. Ya, tiket murah karena kami bukan orang
berduit (kalau tidak mau dibilang kere
abis). Kami pantengi website dan FB AirAsia agar tak
kehilangan momen saat AirAsia melakukan promo tiket murah ke Korea.
Alhamdulillah, berkat kegigihan dan kerelaan begadang (akibat berburu tiket
promo AirAsia tengah malam) teman saya, ia berhasil mendapatkan tiket PP ke Korea
hanya sebesar Rp1.890.000. Itu untuk rute Kuala Lumpur-Korea, Korea-Kuala
Lumpur yah, dengan jadwal penerbangan bulan Juli tahun 2012. Ya, kami menunggu
satu tahun untuk bisa ke Korea.
Terus terang saya bukan tipe orang yang bisa menabung. Ada
saja justifikasi untuk mengambil uang simpanan di bank. Sehingga sistem membeli
tiket untuk jadwal penerbangan tahun berikutnya cukup membantu saya untuk
memaksakan diri menabung. Karena, saya menjadi punya tujuan jelas untuk apa
bersikap irit. Apalagi saya dan teman akan berada di Korea selama delapan hari
dan mengunjungi lima kota, seperti Seoul, Busan, Gwangju, Jeonju dan Yeosu.
Jadi, butuh cukup uang di tabungan agar pihak kedutaan yakin kami bisa
membiayai hidup kami selama di Korea.
Backpacker-an Nih Ye?
Saat mengatakan pada rekan kerja bahwa saya akan ke Korea ala backpacker, dia spontan terbahak.
Sepertinya agak absurd buat dia melihat saya bepergian hanya dengan satu
ransel. “Inget gak waktu kita ke
Yogya? Bawaan lo heboh banget,
apalagi ke Korea?” ujarnya seraya memasang tampang tak percaya pada niat saya
untuk menjadi backpacker.
Masuk akal juga sih ucapan teman saya ini. Sejujurnya, saya juga tak
percaya hanya akan menggunakan satu ransel untuk menaruh seluruh keperluan saya
selama delapan hari di Korea. Maka, berulangkali saya bertanya pada teman saya
berapa pakaian dan apa saja yang akan dia bawa. Ketika berkemas, saya masih tidak
percaya kalau akan memakai baju yang sama paling tidak tiga hari.
Tiga Tuduhan
Ketika di Korea setidaknya saya menerima tiga tuduhan.
Pertama, tempat kejadian perkara di Namsan Tower, Seoul. Saat tengah asyik
memotret di bawah rintik hujan, seorang bapak menghampiri kami dan menawarkan
diri bantu memotret kami. Setelah ngobrol, ternyata dia dan teman-temannya
berasal dari Kalimantan. Mereka bekerja di sebuah perusahaan Korea yang
beroperasi di Kalimantan.
Asyiknya, perusahaan tersebut setiap tahun menghadiahi
karyawannya untuk berwisata ke Korea. Hadeuh,
bikin iri aja nih Bapak-bapak. Ketika kami bilang pergi dengan biaya sendiri,
serta merta dia menyangka kami banyak duit. Seumur hidup, baru kali ini saya dituduh
orang kaya, hahahahaha…. Gara-gara tiket murah AirAsia, orang mengira kami
kaya!
Tuduhan ke dua muncul ketika kami bertemu dengan
segerombolan remaja Indonesia yang menetap di Singapura tatkala bertandang ke
Namdaemun. Kami berbincang sebentar dan terkuaklah bahwa mereka baru saja
mengunjungi beberapa agensi artis K Pop yang ada di sekitar Gangnam. Ketika
kami bercerita bisa ke Korea karena mendapat tiket murah, mereka juga bilang
dapat tiket murah dari sebuah maskapai penerbangan di Singapura.
“Berapa?”
tanya kami penasaran. “Sekitar 500 dolar,” kata salah seorang dari mereka. Jiaaaah, itu sih masih mahal. Saat kami
bilang merencanakan perjalanan ini setahun sebelumnya, dengan penuh ekspresi
kekaguman seorang dari mereka berkomentar, “Wah, K Popers sejati!” Gubrak!
Kali lain saya dituduh mengerti bahasa Korea oleh teman seperjalanan
saya sendiri. Bayangkan, betapa tidak masuk akalnya! Hehehe…. Tuduhan itu
bermula karena saya kerap mengerti apa yang dikatakan orang Korea, yang tentu
saja mereka berbahasa Korea dan saya menjawabnya dengan bahasa Inggris yang
pas-pasan. Bukannya saya mengerti bahasa Korea, saya hanya cukup lihai
menduga-duga.
Misalnya, ketika kami menaiki bis
menuju Busan tiba-tiba kernet bis bertanya pada para penumpang dalam bahasa Korea.
Tentu saja kami tak paham apa yang dia bicarakan. Namun, saya perhatikan
jawaban para penumpang. Kok
jawabannya berbeda-beda? Jadi saya menyimpulkan, mungkin pertanyaannya begini?
“Anda mau turun di mana?” Maka, ketika si kernet bis bertanya, saya jawab,
“Napo-dong.” Si kernet bis lalu mengangguk. Teman saya terbengong-bengong dan
berujar, “Mbak, kok bisa sih lo sekonyong-konyong jawab
Napo-dong. Emang Mbak ngerti?” Tentu saja saya jawab, “Kagak. Gue pake bahasa qalbu, hehehe….”
Begitu pula saat kami naik taksi di Jeonju. Si sopir terheran-heran
dengan seorang nenek yang berkata berulang-ulang padanya agar mengantarkan kami
ke terminal bis ekspres karena kami akan pergi ke Busan. Tatkala kami masuk dia berkata pada kami dengan bahasa Korea seraya menunjuk
nenek itu. Lalu saya jawab dengan bahasa Inggris, “No, we don’t know her.”
Teman saya bertanya, “Emang dia ngomong apa,
Mbak?” Dengan penuh keyakinan saya bilang, “Dia nanya apa kita kenal nenek itu?
Apa dia teman kita?” Tahukah Anda kata apa yang membuat saya menyimpulkan hal
itu? Chingu (teman), yang sempat
terlontar dari mulut si sopir taksi. Rasanya saya pernah dengar kata itu saat
menonton K Drama.
Ketika saya menceritakan pengalaman saya kepada seorang teman kantor,
dia berujar, “Ya iyalah, percuma aja lo
begadang nonton drama Korea kalau nggak
ada sama sekali yang nyantol (di
otak).” Hehehehe….
Pelajaran Berharga
Selama di Korea saya mengunjungi banyak tempat indah. Namun,
kebahagiaan terbesar saya adalah ketika bertemu dan berbincang dengan saudara
sesama Muslim di sana. Sangat menarik melihat perjuangan mereka mempertahankan
aqidah dan itu memberi saya banyak pelajaran berharga.
Hal yang juga mulai saya pahami dari perjalanan saya adalah semakin
kita sering menyambangi negara lain, kian cinta pula kita pada negeri sendiri.
Rasa cinta pada Indonesia membuat kita ingin hal-hal baik yang kita lihat di
negara lain terjadi pula di negeri kita. Insya Allah awal Desember saya dan
seorang teman akan menyambangi Thailand dan Vietnam. Yap, itu hasil kami dapat
tiket promo AirAsia tahun lalu!