ROMANTIS ABIS
Apa makna romantis untuk Anda? Seumur hidup saya belum
pernah merasakan punya pacar, apalagi bersuami. Tapi saya sering merasakan
hal-hal romantis dalam hidup saya. Ya, entah kenapa Allah memberi saya
teman-teman yang super romantis. Suatu malam, ketika saya tengah sedih,
tiba-tiba seorang teman nun jauh di Indonesia bagian timur mengirimkan SMS yang
isinya cuma: “I miss you, Ly. I love you”. Seketika rasa sedih saya hilang, tak
menyangka ada seorang teman yang tengah merindukan dan memikirkan saya. Saya
menjadi tersadar untuk mensyukuri apa yang saya miliki, bukan selalu
‘terganggu’ dengan apa yang tak saya miliki.
“Ini Ly buat lo, waktu ke mal gue liat cokelat ini tiba-tiba
inget lo.” Entah berapa kali saya mengalami ini, menerima cokelat favorit saya
hanya karena mereka mengingat kecintaan saya pada cokelat itu dan langsung
membelikannya untuk saya. Suatu ketika, bos saya menyodorkan wajik ketan
berbalut daun jagung kegemaran saya. Saya tak menyangka dia ingat saya pernah
bilang suka wajik itu.
“Waktu liat baju ini entah kenapa gue merasa baju ini emang
‘dibuat’ untuk lo. Jadi, gue beli deh.” Beberapa teman juga acap menghadiahkan
baju, jilbab, bros dan entah apa lagi untuk saya. Atau, ketika saya tengah
masuk angin, tiba-tiba seorang teman mendatangi meja kerja saya dengan membawa
segelas teh hangat. Ketika saya mengalami masa buruk, teman-teman saya mengejar
ke tempat saya ‘melarikan diri’ dan memeluk erat saya.
Atau, ketika seorang teman dengan sabar ‘menerima’ kegilaan
saya pada Hyun Bin. Bayangkan, menjelang tengah malam −ketika orang seharusnya
sudah tidur− teman baik saya masih setia menanggapi ocehan saya mengenai kecintaan
dan kekhawatiran saya pada Hyun Bin. Gila, gak penting banget kan? Tapi, dia
dengan sungguh-sungguh menanggapi ocehan saya, seolah itu hal yang penting dan
menarik juga buat dia. Dia terus menemani sampai akhirnya saya lelah mengoceh
dan tertidur.
Juga, ketika orang-orang yang baru saya kenal rela
meluangkan waktunya untuk mendoakan saya. Mendapat sapaan ramah dari tetangga
ketika ke luar rumah, memperoleh pelukan dan senyuman manis dari keponakan
tercinta, saat seseorang rela berdiri dan memberikan tempat duduknya di bis,
atau ketika seseorang tiba-tiba memayungi saya di tengah rintik hujan. Buat
saya, apa yang mereka lakukan itu sangat romantis. Karena romantisisme dalam
perspektif saya: sesuatu yang dilakukan seseorang yang mampu membuat kita
bahagia. Tak peduli sekecil apapun itu di mata orang kebanyakan, buat saya itu
sangat berharga.
Tapi, ada kalanya juga saya mengalami hal-hal yang sama
sekali tak romantis. Salah satunya, terjadi saat saya SMA. Ketika tengah duduk
di dalam bis dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah, seorang lelaki
di sebelah saya mengajak berkenalan. Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang
suka berkenalan dengan pria di dalam moda transportasi.
Meski ogah-ogahan, saya
tetap menyebutkan nama saya. Tentu saja dia juga menyebutkan namanya. Entah
kenapa, sepertinya dia memahami ketidakpedulian saya sebagai manifestasi
ketidakpercayaan saya akan kebenaran namanya. Kemudian dia coba meyakinkan
kembali bahwa itu benar namanya. Sejurus kemudian, ia mengeluarkan KTP untuk
menjustifikasi pernyataannya.
Meski saya sudah menunjukkan sikap tak tertarik, dia tetap
saja mengajak ngobrol. Ketika kernet bis meminta ongkos dari para penumpang,
dia membayari saya. Jelas saja saya tolak. Pertama, saya tidak kenal dia. Ke
dua, saya mampu membayar. Aduh, lelaki ini benar-benar membuat saya ‘lelah’. Ternyata
penderitaan saya belum berakhir. Tiba-tiba saja dia mengambil secarik kertas
dan menuliskan sesuatu. Bak penyair, dia membacakan puisi yang ia tulis. Anda tahu judulnya? Bidadari. Menurut dia, “bidadari” sangat cocok merepresentasikan
sosok saya. Ya ampuuuun, nih cowo hidup di zaman apa sih? Apa dia pikir hal
kayak gitu bisa bikin perempuan tersanjung? Saya benar-benar dibuat takut oleh
ulahnya.
Ketika saya menceritakan ini pada teman saya, reaksinya
benar-benar membuat saya bengong, “Ya ampun Ly, romantis banget sih?” Respon
saya, “Lo gila yah? Gimana bisa seseorang yang nggak gue kenal dan nggak kenal
gue menilai gue sebagai seorang bidadari? Kalau mau gombal, kira-kira dong!”
Tapi, tetap saja teman saya mengeluarkan ekspresi kekaguman luar biasa dan
berharap dia mengalami hal serupa. Saya yakin itu efek dari kesukaannya
menonton film romantis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar