Jumat, 24 Agustus 2012

ROMANTIS ABIS

Apa makna romantis untuk Anda? Seumur hidup saya belum pernah merasakan punya pacar, apalagi bersuami. Tapi saya sering merasakan hal-hal romantis dalam hidup saya. Ya, entah kenapa Allah memberi saya teman-teman yang super romantis. Suatu malam, ketika saya tengah sedih, tiba-tiba seorang teman nun jauh di Indonesia bagian timur mengirimkan SMS yang isinya cuma: “I miss you, Ly. I love you”. Seketika rasa sedih saya hilang, tak menyangka ada seorang teman yang tengah merindukan dan memikirkan saya. Saya menjadi tersadar untuk mensyukuri apa yang saya miliki, bukan selalu ‘terganggu’ dengan apa yang tak saya miliki. 

“Ini Ly buat lo, waktu ke mal gue liat cokelat ini tiba-tiba inget lo.” Entah berapa kali saya mengalami ini, menerima cokelat favorit saya hanya karena mereka mengingat kecintaan saya pada cokelat itu dan langsung membelikannya untuk saya. Suatu ketika, bos saya menyodorkan wajik ketan berbalut daun jagung kegemaran saya. Saya tak menyangka dia ingat saya pernah bilang suka wajik itu.    

“Waktu liat baju ini entah kenapa gue merasa baju ini emang ‘dibuat’ untuk lo. Jadi, gue beli deh.” Beberapa teman juga acap menghadiahkan baju, jilbab, bros dan entah apa lagi untuk saya. Atau, ketika saya tengah masuk angin, tiba-tiba seorang teman mendatangi meja kerja saya dengan membawa segelas teh hangat. Ketika saya mengalami masa buruk, teman-teman saya mengejar ke tempat saya ‘melarikan diri’ dan memeluk erat saya. 

Atau, ketika seorang teman dengan sabar ‘menerima’ kegilaan saya pada Hyun Bin. Bayangkan, menjelang tengah malam −ketika orang seharusnya sudah tidur− teman baik saya masih setia menanggapi ocehan saya mengenai kecintaan dan kekhawatiran saya pada Hyun Bin. Gila, gak penting banget kan? Tapi, dia dengan sungguh-sungguh menanggapi ocehan saya, seolah itu hal yang penting dan menarik juga buat dia. Dia terus menemani sampai akhirnya saya lelah mengoceh dan tertidur. 

Juga, ketika orang-orang yang baru saya kenal rela meluangkan waktunya untuk mendoakan saya. Mendapat sapaan ramah dari tetangga ketika ke luar rumah, memperoleh pelukan dan senyuman manis dari keponakan tercinta, saat seseorang rela berdiri dan memberikan tempat duduknya di bis, atau ketika seseorang tiba-tiba memayungi saya di tengah rintik hujan. Buat saya, apa yang mereka lakukan itu sangat romantis. Karena romantisisme dalam perspektif saya: sesuatu yang dilakukan seseorang yang mampu membuat kita bahagia. Tak peduli sekecil apapun itu di mata orang kebanyakan, buat saya itu sangat berharga.   

Tapi, ada kalanya juga saya mengalami hal-hal yang sama sekali tak romantis. Salah satunya, terjadi saat saya SMA. Ketika tengah duduk di dalam bis dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah, seorang lelaki di sebelah saya mengajak berkenalan. Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang suka berkenalan dengan pria di dalam moda transportasi. 

Meski ogah-ogahan, saya tetap menyebutkan nama saya. Tentu saja dia juga menyebutkan namanya. Entah kenapa, sepertinya dia memahami ketidakpedulian saya sebagai manifestasi ketidakpercayaan saya akan kebenaran namanya. Kemudian dia coba meyakinkan kembali bahwa itu benar namanya. Sejurus kemudian, ia mengeluarkan KTP untuk menjustifikasi pernyataannya. 

Meski saya sudah menunjukkan sikap tak tertarik, dia tetap saja mengajak ngobrol. Ketika kernet bis meminta ongkos dari para penumpang, dia membayari saya. Jelas saja saya tolak. Pertama, saya tidak kenal dia. Ke dua, saya mampu membayar. Aduh, lelaki ini benar-benar membuat saya ‘lelah’. Ternyata penderitaan saya belum berakhir. Tiba-tiba saja dia mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu. Bak penyair, dia membacakan puisi yang ia tulis. Anda tahu judulnya? Bidadari. Menurut dia, “bidadari” sangat cocok merepresentasikan sosok saya. Ya ampuuuun, nih cowo hidup di zaman apa sih? Apa dia pikir hal kayak gitu bisa bikin perempuan tersanjung? Saya benar-benar dibuat takut oleh ulahnya.   

Ketika saya menceritakan ini pada teman saya, reaksinya benar-benar membuat saya bengong, “Ya ampun Ly, romantis banget sih?” Respon saya, “Lo gila yah? Gimana bisa seseorang yang nggak gue kenal dan nggak kenal gue menilai gue sebagai seorang bidadari? Kalau mau gombal, kira-kira dong!” Tapi, tetap saja teman saya mengeluarkan ekspresi kekaguman luar biasa dan berharap dia mengalami hal serupa. Saya yakin itu efek dari kesukaannya menonton film romantis.                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar