Minggu, 07 Oktober 2012



FAKIR CINTA

Sudah lama saya menjadi fakir asmara (baca: jomblo) dan tak pernah merasakan itu suatu aib atau kondisi yang menyedihkan. Namun, setelah kemarin menonton film Omar (Umar bin Khattab), saya menyadari sesuatu: betapa saya sangat fakir dalam soal cinta. Tanpa sadar saya menangis sesegukan karena melihat betapa dalamnya cinta para pengikut Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Jangankan harta, nyawa pun mereka rela pertaruhkan demi cinta mereka pada Allah dan utusanNya.   

Sementara saya? Jangankan mencapai taraf mencintai Allah dan para utusanNya, mencintai diri sendiri saja rasanya tidak. Orang yang mencintai dirinya tak akan menyiakan-nyiakan waktu dalam hidupnya untuk sesuatu yang tak berguna. Untuk orang yang ingin hidupnya berakhir di Madinah, kota dimana Rasulullah wafat, sangat menyedihkan betapa saya tak menggunakan seluruh jiwa dan raga saya untuk berusaha menjadi orang yang pantas mendapat husnul khatimah.

Mencintai Rasulullah? Omong kosong! Apa yang saya lakukan ketika Rasulullah dihina? Tidak ada. Merasa tidak bisa tidur karena kelewat marah pun, tidak. Padahal sebagai Muslim, kecintaan kita pada Allah dan RasulNya harus melebihi cinta kita pada keluarga atau apapun. Saya ingat ketika kecil, teman lelaki saya menghina Bapak, saya kejar ia hingga ke rumahnya, sampai-sampai ibunya ketakutan melihat wajah saya yang beringas karena marah dan berteriak-teriak meminta teman saya itu keluar dari rumahnya. Namun, emosi seperti itu tak saya rasakan ketika Rasul saya dihina. Menyedihkan, ini menunjukkan betapa fakirnya saya akan cinta.    

Kalau ada orang yang menantang untuk menyedekahkan gadget kesayangan demi perjuangan Islam, saya mungkin akan menjawab: Are you kidding me? Tuh kan, apalagi disuruh mempertaruhkan nyawa, nggak mungkin mau-lah, saya takut mati! Dan takut mati adalah ciri lemahnya iman seseorang. Bagi orang dengan keimanan kuat, mati adalah nikmat yang selalu dinantikan karena dengan begitu ia akan berhadapan dengan Sang Maha Cinta.     

Untuk orang yang mengaku mencintai keluarga dan teman-temannya, saya merasa belum pernah melakukan apapun yang layak disebut manifestasi cinta saya pada mereka. Kepada teman misalnya, saya bukan tipe orang yang bisa dihubungi kapan pun dan datang kapan pun teman-teman membutuhkan saya. Saya tak memiliki sikap pengorbanan seperti itu.     

CINTA. Banyak orang tak percaya saya pernah merasakan jatuh cinta dan terpuruk karena cinta. Benar kata Raditya Dika, jatuh cinta itu musuh akal sehat. Ketika itu saya melakukan tindakan absurd karena virus cinta. Yakni, secara gamblang mengaku pada teman-teman bahwa saya menyukai dia. Akhirnya, satu sekolah mengetahui hal itu. Untung saja saat itu bukan eranya social media, kalau ya, mungkin penduduk di republik ini tahu saya naksir cowo itu.

Akibatnya, ketika dia menggandeng cewe lain, terbayangkah oleh Anda betapa terkoyaknya harga diri saya? Orang yang tidak pernah patah hati tak akan pernah bisa merasakan hancurnya hati saya, ceileeeeee…. Bertahun-tahun kemudian barulah saya menyadari betapa Allah sangat mencintai saya. Ia tak membiarkan saya jatuh cinta padanya lebih dalam (apalagi pacaran) dengan menunjukkan siapa dia sebenarnya.   

Seiring perjalanan waktu, saya mulai banyak belajar tentang cinta. Meski belum memahami sepenuhnya, satu hal yang saya tahu dengan pasti: saya sangat menginginkan rasa cinta yang mendalam pada Allah dan RasulNya. Kenapa? Karena saya ingin merasakan paripurnanya cinta.     

Jumat, 21 September 2012



ADIKSI TRAVELING

Saya kecanduan traveling! Saya tak bermaksud bersikap lebay tatkala mengatakan itu. Sungguh, saya merasakannya usai berlibur ke Korea Selatan. Beberapa minggu setelah pulang ke Tanah Air, saya masih tidak bisa berada di rumah seharian. Padahal, biasanya saya suka banget di rumah, malah seringkali saya bekerja di rumah.

Gejala kecanduan yang pertama adalah setiap hari merasa harus ke luar rumah. Entah itu ke kantor, mal dekat rumah, minimarket, pasar, masjid, salon, dan sebagainya. Pokoknya, jalan-jalan deh. Ciri kecanduan yang ke dua adalah setiap kali ketemu teman, saya selalu bercerita tentang perjalanan saya ke Korea, entah diminta atau tidak diminta, hehehe...nyebelin banget yah. Hasilnya, beberapa teman yang merasa “dikompori” oleh saya, tertarik juga untuk pergi ke Korea.  

Gejala kecanduan ke tiga, saya mulai berkoar pada teman-teman mengenai negara yang akan menjadi destinasi wisata berikutnya, seraya berupaya keras untuk menabung. Saya juga makin rajin membeli buku dan majalah yang membahas tempat wisata. Pun, selalu memohon pada Allah agar diberi kesempatan lagi plesiran ke luar negeri maupun dalam negeri.

Oh ya, saya juga menyadari, rupanya gejala kecanduan juga dibarengi dengan kegilaan. Ditandai dengan seringnya berhalusinasi. Setiap kali melewati toko yang menjual koper dan ransel, saya selalu merasa mereka memanggil saya seraya memohon, “Beli kami, beli kami…” Tak ingin mengacuhkan mereka, akhirnya saya menghampiri koper dan ransel yang berjejer di etalase. Dan begitu melihat harganya, kesadaran saya mulai pulih. Di atas 3 juta, Sis!

Kalau sudah begini, rasanya saya ingin mengutip perkataan Dayang Sumbi (keterangan: kalimat sudah disesuaikan dengan kebutuhan), “Siapa yang mau membelikan saya koper Samson (nama disamarkan untuk menghindari publikasi-red) bila berjenis kelamin laki-laki akan saya jadikan kacung, jika perempuan akan saya jadikan babysitter keponakan saya.”

Gejala kecanduan berikutnya adalah mulai mengorelasikan berbagai kejadian sebagai pertanda bahwa saya harus berkunjung ke negara tersebut. Contohnya, ketika bertandang ke Museum Kimchi di Seoul saya bertemu dengan seorang bapak dari Turki. Di akhir obrolan kami, dia menawarkan saya untuk mampir ke rumahnya jika suatu saat saya ke Turki. Ia berpikir saya akan cocok berteman dengan anaknya, yang usianya tak jauh beda dengan saya. Wah, unyu-unyu dong!       

Terakhir, saya mulai berpikir untuk mengklasifikasikan pakaian saya berdasarkan empat musim. Landasan pemikirannya sih, biar kalau traveling lagi, entah ke negara mana pun itu, saya tak perlu mikir lagi mau bawa baju yang mana saat packing.

Efek dari kecanduan traveling, saya menjadi mengerti mengapa ada orang yang nekad berhenti bekerja dan memutuskan jalan hidup menjadi traveler. Finally, setelah traveling ke empat negara, saya menyadari satu hal yang tak kalah penting, yakni pelajarilah gaya berpose. Karena setelah diperhatikan, pose saya kok kalau nggak miring ke kiri ya miring ke kanan. Kalo lagi beruntung sih nyontek pose turis yang lagi foto di spot yang sama. Nah, kalo kagak ada contohnya? Mati gaya-lah gue!    

  

Jumat, 07 September 2012

LIBATKAN ALLAH

Pekan ini saya mendapat pencerahan dari beberapa teman. Dalam sebuah diskusi, bos saya bercerita, dari beberapa daerah konflik di Indonesia maupun negara yang pernah ia sambangi sebagai jurnalis, terkuak pengakuan dari para penduduk. “Ini (musibah) terjadi karena kami ‘jauh’ dari Allah.”

Ramadhan lalu, teman saya juga bercerita bahwa insiden ia mencintai pria yang salah terjadi karena ia tak melibatkan Allah dalam proses ‘mengenal’ pria tersebut.

Kisah perselingkuhan yang pernah saya dengar pun berakhir pada konklusi: semua pihak yang terlibat dalam perselingkuhan, ‘jauh’ dari Allah. Konsekuensi logisnya, kalau mereka ‘dekat’ dengan Allah, mana mungkin mereka berani melanggar mitsaqan ghaliza (sebuah perjanjian yang kuat, yang bahkan tak hanya disaksikan oleh manusia, tapi juga Allah).

Saya juga kaget (ketahuan banget jarang baca hadist) ketika melihat hadist berikut ini:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Hendaklah di antara kalian bermohon kepada Tuhan-Nya menyangkut seluruh hajatnya, walaupun berkaitan dengan sandalnya yang putus.”

Allah Yang Maha Kaya juga senang dimintai dan Dia marah bila tak dimintai. Bahkan, malu jika tak mengabulkan permohonan hamba-Nya. Seperti dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Kalian mintalah kepada Allah dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah senang untuk diminta.” (HR Tirmidzi dan Abu Nu’aim). “Siapa yang tidak berdoa kepada Allah maka Allah murka kepadanya.” (HR Tirmidzi). “Indeed, Allah is Shy and Beneficent. He is Shy when His servant raises his hands to Him in dua to return them empty [Ahmad].” Ya, Allah ‘malu’ untuk tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya dengan tulus.

Subhanallah, Allah Maha Baik. Saya pun terlarut dalam sebuah kontemplasi, seberapa sering saya melibatkan Allah dalam setiap keputusan yang saya buat? Rasanya tidak sering. Semoga Allah berkenan mengampuni saya. Astaghfirullah.

Ya, tak peduli seberapa cerdas ataupun penuh perhitungannya kita, siapa yang bisa menjamin kita tak bakal membuat keputusan yang salah? Seberapapun hati-hatinya kita dalam mengambil tindakan, siapa yang bisa menjamin kita tidak akan salah langkah? Seberapa banyak hal yang kita tahu? Sedikit. Karena sebanyak apapun yang kita pikir ketahui, lebih banyak yang tidak kita ketahui. Apalah arti pengetahuan kita dibanding pengetahuan Allah. Allah Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak. Lantas, apa yang membuat kita merasa berhak untuk tak melibatkan Allah dalam setiap urusan kita? Tak ada.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita ke jalan yang benar yah. Amiiiin.

Jumat, 31 Agustus 2012

PENGECUT LUAR BIASA

Pemberani atau pengecutkah Anda? Kontemplasi saya Ramadhan lalu melahirkan konklusi: saya adalah seorang pengecut. Ada satu peristiwa yang membuat saya kian meyakini hal itu. Hari itu saya memutuskan untuk berbuka puasa di restoran favorit saya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta. Mengingat restoran selalu penuh saat waktu berbuka puasa tiba, saya memutuskan untuk makan usai shalat magrib. Meski masih cukup banyak orang yang makan, tapi paling tidak saya bisa mendapatkan tempat duduk.

Sambil menunggu pesanan makanan datang, saya memperhatikan keadaan sekeliling. Para pramusaji sibuk hilir mudik mengantarkan maupun mencatat pesanan pelanggan. Karyawan di bagian dapur pun tak kalah sibuk (saya duduk tak terlalu jauh dari dapur). Saya bergumam dalam hati, “Kasihan sekali mereka sibuk melayani kebutuhan perut para pelanggan. Sudahkah mereka berbuka puasa?”

Setelah agak lama menunggu, alhamdulillah, tiba pula giliran saya menyantap makanan. Saat makan, saya teringat sesuatu. Buru-buru saya melihat jam di ponsel, waktu menunjukkan pukul 18.50, itu berarti sebentar lagi waktu isya akan tiba. Saya melongok ke bagian dapur, terlihat seorang supervisor tengah menyantap makanan sambil berdiri, agaknya dia baru sempat makan. Saya lihat lagi ke arah dapur, wah sempit sekali, rasanya tak mungkin ada ruang bagi mereka untuk shalat di dapur.

Saya mulai gelisah, karena pramusaji-pramusaji yang ada masih tetap orang yang sama yang saya lihat ketika datang. Sudahkah mereka shalat magrib? Sudahkah mereka mendahulukan kewajiban pada Allah daripada kepada manusia? 

Saya memanggil salah seorang pramusaji dan bertanya padanya apakah dia sudah shalat magrib? Dia menjawab, “Belum”. Karena sibuk melayani pelanggan yang berbuka puasa, dia tak sempat shalat. Saya bilang padanya, shalat itu wajib dan ibadah yang pertama kali akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Saya bertanya padanya, mungkinkah bosnya yang melarang ia untuk shalat? Saya akan melaporkannya ke dinas terkait kalau itu yang terjadi.

Benarkah itu semua saya katakan dan lakukan? TIDAK. Semua itu hanya fantasi yang menari dalam benak saya. Realitanya, saya hanya diam hingga waktu isya tiba, makanan saya habis, lalu pergi meninggalkan restoran.

Ketika akan pulang, dalam mikrolet saya duduk di bagian paling belakang, berhadap-hadapan dengan pasangan muda-mudi yang tengah pacaran. Si perempuan terus memegang dan mengelus tangan si lelaki. Berbicara dengan manja dan sesekali memegang wajah sang lelaki.

Saya bertanya, apakah mereka sudah menikah? Mereka jawab, belum menikah. “Apa kalian tahu yang kalian lakukan itu perzinaan?” kata saya. “Apa urusan lo? Urus aja urusan lo sendiri. Mau berzina atau nggak itu urusan gue ama pacar gue. Apa hak lo ngelarang-larang!” ujar si lelaki dengan sengit.

Benarkah itu yang terjadi? TIDAK! Itu hanya kemungkinan-kemungkinan yang saya pikirkan dalam benak, jika saya benar-benar ‘menginterupsi’ tindakan mereka pacaran di dalam angkot.

Nyatanya, lagi-lagi saya hanya diam dan ngedumel dalam hati, tanpa pernah mengutarakan dan melakukan sesuatu yang menjadi tanggung jawab saya sebagai Muslim: amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf dan nahi munkar tidak pernah menjadi terpisah. Artinya, kita tidak bisa hanya amar ma’ruf, tapi tak nahi munkar, atau sebaliknya. Keduanya harus kita lakukan.

Lalu apa yang saya lakukan? Saya hanya melihat mereka dan setelah beberapa lama saya tak tahan melihat pemandangan di depan mata, saya mengalihkan pandangan ke arah lain (baca: melengos). Begitu penumpang-penumpang di deretan saya mulai turun, saya pilih bergeser tepat di belakang sopir, menjauh dari pasangan muda-mudi itu. Ya, saya pilih untuk menghindar. Betapa lemahnya iman saya. Saya kesal luar biasa pada diri saya. Mendadak saya malu pada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, layakkah saya disebut ummat Nabi Muhammad? Kenyataannya, saya hanya membuat beliau malu saja.

Saya iri dengan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam. Ketika paman Rasulullah, Abu Thalib, menyampaikan pesan para  petinggi kaum Quraisy agar Muhammad bersedia menghentikan da’wah Islam atau mereka akan memerangi Muhammad, dengan tegas dan berani beliau berujar, “Wahai pamanku, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini, sama sekali aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”  

Saya iri dengan sahabat Rasulullah yang luar biasa pemberani dalam menegakkan ajaran Islam, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Bahkan, setan pun takut padanya. Saya iri dengan Khalid bin Walid, ksatria gagah berani yang bergelar “Saifullah” (pedang Allah yang terhunus) dan sangat disegani musuh-musuhnya.        

Ya, pada akhirnya saya hanya bisa iri, karena tak memiliki keberanian sebesar mereka…. Ampuni saya, ya Allah!

Jumat, 24 Agustus 2012

ROMANTIS ABIS

Apa makna romantis untuk Anda? Seumur hidup saya belum pernah merasakan punya pacar, apalagi bersuami. Tapi saya sering merasakan hal-hal romantis dalam hidup saya. Ya, entah kenapa Allah memberi saya teman-teman yang super romantis. Suatu malam, ketika saya tengah sedih, tiba-tiba seorang teman nun jauh di Indonesia bagian timur mengirimkan SMS yang isinya cuma: “I miss you, Ly. I love you”. Seketika rasa sedih saya hilang, tak menyangka ada seorang teman yang tengah merindukan dan memikirkan saya. Saya menjadi tersadar untuk mensyukuri apa yang saya miliki, bukan selalu ‘terganggu’ dengan apa yang tak saya miliki. 

“Ini Ly buat lo, waktu ke mal gue liat cokelat ini tiba-tiba inget lo.” Entah berapa kali saya mengalami ini, menerima cokelat favorit saya hanya karena mereka mengingat kecintaan saya pada cokelat itu dan langsung membelikannya untuk saya. Suatu ketika, bos saya menyodorkan wajik ketan berbalut daun jagung kegemaran saya. Saya tak menyangka dia ingat saya pernah bilang suka wajik itu.    

“Waktu liat baju ini entah kenapa gue merasa baju ini emang ‘dibuat’ untuk lo. Jadi, gue beli deh.” Beberapa teman juga acap menghadiahkan baju, jilbab, bros dan entah apa lagi untuk saya. Atau, ketika saya tengah masuk angin, tiba-tiba seorang teman mendatangi meja kerja saya dengan membawa segelas teh hangat. Ketika saya mengalami masa buruk, teman-teman saya mengejar ke tempat saya ‘melarikan diri’ dan memeluk erat saya. 

Atau, ketika seorang teman dengan sabar ‘menerima’ kegilaan saya pada Hyun Bin. Bayangkan, menjelang tengah malam −ketika orang seharusnya sudah tidur− teman baik saya masih setia menanggapi ocehan saya mengenai kecintaan dan kekhawatiran saya pada Hyun Bin. Gila, gak penting banget kan? Tapi, dia dengan sungguh-sungguh menanggapi ocehan saya, seolah itu hal yang penting dan menarik juga buat dia. Dia terus menemani sampai akhirnya saya lelah mengoceh dan tertidur. 

Juga, ketika orang-orang yang baru saya kenal rela meluangkan waktunya untuk mendoakan saya. Mendapat sapaan ramah dari tetangga ketika ke luar rumah, memperoleh pelukan dan senyuman manis dari keponakan tercinta, saat seseorang rela berdiri dan memberikan tempat duduknya di bis, atau ketika seseorang tiba-tiba memayungi saya di tengah rintik hujan. Buat saya, apa yang mereka lakukan itu sangat romantis. Karena romantisisme dalam perspektif saya: sesuatu yang dilakukan seseorang yang mampu membuat kita bahagia. Tak peduli sekecil apapun itu di mata orang kebanyakan, buat saya itu sangat berharga.   

Tapi, ada kalanya juga saya mengalami hal-hal yang sama sekali tak romantis. Salah satunya, terjadi saat saya SMA. Ketika tengah duduk di dalam bis dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah, seorang lelaki di sebelah saya mengajak berkenalan. Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang suka berkenalan dengan pria di dalam moda transportasi. 

Meski ogah-ogahan, saya tetap menyebutkan nama saya. Tentu saja dia juga menyebutkan namanya. Entah kenapa, sepertinya dia memahami ketidakpedulian saya sebagai manifestasi ketidakpercayaan saya akan kebenaran namanya. Kemudian dia coba meyakinkan kembali bahwa itu benar namanya. Sejurus kemudian, ia mengeluarkan KTP untuk menjustifikasi pernyataannya. 

Meski saya sudah menunjukkan sikap tak tertarik, dia tetap saja mengajak ngobrol. Ketika kernet bis meminta ongkos dari para penumpang, dia membayari saya. Jelas saja saya tolak. Pertama, saya tidak kenal dia. Ke dua, saya mampu membayar. Aduh, lelaki ini benar-benar membuat saya ‘lelah’. Ternyata penderitaan saya belum berakhir. Tiba-tiba saja dia mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu. Bak penyair, dia membacakan puisi yang ia tulis. Anda tahu judulnya? Bidadari. Menurut dia, “bidadari” sangat cocok merepresentasikan sosok saya. Ya ampuuuun, nih cowo hidup di zaman apa sih? Apa dia pikir hal kayak gitu bisa bikin perempuan tersanjung? Saya benar-benar dibuat takut oleh ulahnya.   

Ketika saya menceritakan ini pada teman saya, reaksinya benar-benar membuat saya bengong, “Ya ampun Ly, romantis banget sih?” Respon saya, “Lo gila yah? Gimana bisa seseorang yang nggak gue kenal dan nggak kenal gue menilai gue sebagai seorang bidadari? Kalau mau gombal, kira-kira dong!” Tapi, tetap saja teman saya mengeluarkan ekspresi kekaguman luar biasa dan berharap dia mengalami hal serupa. Saya yakin itu efek dari kesukaannya menonton film romantis.