FAKIR CINTA
Sudah lama saya menjadi fakir asmara (baca: jomblo) dan tak
pernah merasakan itu suatu aib atau kondisi yang menyedihkan. Namun, setelah kemarin
menonton film Omar (Umar bin Khattab), saya menyadari sesuatu: betapa saya
sangat fakir dalam soal cinta. Tanpa sadar saya menangis sesegukan karena
melihat betapa dalamnya cinta para pengikut Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Jangankan harta, nyawa pun mereka
rela pertaruhkan demi cinta mereka pada Allah dan utusanNya.
Sementara saya? Jangankan mencapai taraf mencintai Allah dan
para utusanNya, mencintai diri sendiri saja rasanya tidak. Orang yang mencintai
dirinya tak akan menyiakan-nyiakan waktu dalam hidupnya untuk sesuatu yang tak
berguna. Untuk orang yang ingin hidupnya berakhir di Madinah, kota dimana
Rasulullah wafat, sangat menyedihkan betapa saya tak menggunakan seluruh jiwa
dan raga saya untuk berusaha menjadi orang yang pantas mendapat husnul
khatimah.
Mencintai Rasulullah? Omong kosong! Apa yang saya lakukan
ketika Rasulullah dihina? Tidak ada. Merasa tidak bisa tidur karena kelewat
marah pun, tidak. Padahal sebagai Muslim, kecintaan kita pada Allah dan
RasulNya harus melebihi cinta kita pada keluarga atau apapun. Saya ingat ketika
kecil, teman lelaki saya menghina Bapak, saya kejar ia hingga ke rumahnya,
sampai-sampai ibunya ketakutan melihat wajah saya yang beringas karena marah
dan berteriak-teriak meminta teman saya itu keluar dari rumahnya. Namun, emosi seperti itu
tak saya rasakan ketika Rasul saya dihina. Menyedihkan, ini menunjukkan betapa
fakirnya saya akan cinta.
Kalau ada orang yang menantang untuk menyedekahkan gadget kesayangan
demi perjuangan Islam, saya mungkin akan menjawab: Are you kidding me? Tuh kan,
apalagi disuruh mempertaruhkan nyawa, nggak mungkin mau-lah, saya takut mati!
Dan takut mati adalah ciri lemahnya iman seseorang. Bagi orang dengan keimanan
kuat, mati adalah nikmat yang selalu dinantikan karena dengan begitu ia akan
berhadapan dengan Sang Maha Cinta.
Untuk orang yang mengaku mencintai keluarga dan
teman-temannya, saya merasa belum pernah melakukan apapun yang layak disebut manifestasi
cinta saya pada mereka. Kepada teman misalnya, saya bukan tipe orang yang bisa
dihubungi kapan pun dan datang kapan pun teman-teman membutuhkan saya. Saya tak
memiliki sikap pengorbanan seperti itu.
CINTA. Banyak orang tak percaya saya pernah merasakan jatuh
cinta dan terpuruk karena cinta. Benar kata Raditya Dika, jatuh cinta itu musuh
akal sehat. Ketika itu saya melakukan tindakan absurd karena virus cinta. Yakni,
secara gamblang mengaku pada teman-teman bahwa saya menyukai dia. Akhirnya,
satu sekolah mengetahui hal itu. Untung saja saat itu bukan eranya
social media, kalau ya, mungkin penduduk di republik ini tahu saya naksir cowo itu.
Akibatnya, ketika dia menggandeng cewe lain, terbayangkah
oleh Anda betapa terkoyaknya harga diri saya? Orang yang tidak pernah patah
hati tak akan pernah bisa merasakan hancurnya hati saya, ceileeeeee….
Bertahun-tahun kemudian barulah saya menyadari betapa Allah sangat mencintai
saya. Ia tak membiarkan saya jatuh cinta padanya lebih dalam (apalagi pacaran)
dengan menunjukkan siapa dia sebenarnya.
Seiring perjalanan waktu, saya mulai banyak belajar tentang
cinta. Meski belum memahami sepenuhnya, satu hal yang saya tahu dengan pasti:
saya sangat menginginkan rasa cinta yang mendalam pada Allah dan RasulNya.
Kenapa? Karena saya ingin merasakan paripurnanya cinta.