Kamis, 16 Agustus 2012

MINDER AKUT

Seorang teman baik punya penyakit minder yang cukup akut. Belum pernah saya bertemu dengan orang yang tak hanya merasa dirinya berwajah jelek, tapi juga sekuat tenaga meyakinkan orang lain bahwa ia jelek. Saya sampai terbingung-bingung. Karena di mata saya, dia sangat cantik. Percaya deh sama penilaian saya. Dalam soal penampilan fisik, mata saya sangat akurat dan selera saya cukup tinggi, jiaaaah….
Saya heran karena saya bukan tipe orang yang gampang minder, meski juga bukan insan yang memiliki kepercayaan diri tinggi. Orangtua, terutama Bapak, berperan mendidik saya menjadi pribadi yang tidak gampang minder.

Bapak tidak berpendidikan formal tinggi, bukan pula lahir dari keluarga kaya, mungkin justru itulah yang membuat ia menjadi seorang pekerja keras. Sejak muda ia sudah berdagang, yang paling saya ingat dari ceritanya adalah ketika ia menjual pakaian dalam wanita dan dagangannya diobrak-abrik oleh petugas keamanan. Sedih sekali membayangkan ia memungut satu per satu bra dan celana dalam wanita yang berhamburan di jalanan.

Meski ketika kecil kami hidup sederhana, Bapak tak pernah membiarkan kami menjadi anak yang minder karena apa yang tidak kami punya. Bapak punya cara sendiri untuk memenuhi keinginan kami. Ketika kami ingin memiliki sepeda seperti anak-anak lainnya, Bapak membelikan kami sepeda bekas asal Jepang. Ketika saya kecil −sekitar tahun ’80-an di Tanjung Priok tempat tinggal saya− banyak beredar barang-barang bekas asal Jepang. Tak seperti sekarang yang dibanjiri produk China, di masa saya kecil produk yang dominan dipakai orang adalah buatan Jepang karena dianggap berkualitas tinggi.

Awalnya saya kesal, bukan saja lantaran itu sepeda bekas, tapi juga karena kedua rodanya kecil sekali. Anda pernah melihat sepeda statis yang biasa digunakan di tempat-tempat fitnes? Beroda kecil, kan? Nah, seperti itulah roda sepeda yang saya punya. Di era sepeda lipat seperti sekarang mungkin tak terlalu aneh, tapi bayangkan itu terjadi di tahun ’80-an. Sungguh pemandangan yang tak lazim.

Imbasnya, saya selalu jadi bahan tertawaan, gunjingan, atau yang paling sopan sih orang-orang melihat dengan pandangan aneh saat saya mengendarai sepeda. Ketika saya menceritakan hal itu pada Bapak, dengan tenang ia hanya bilang, “Ali (panggilan kecil saya) harus bangga karena cuma Ali yang punya sepeda kayak gitu.” Meski masih kesal, saya coba untuk mempercayai Bapak dan meyakinkan diri bahwa sepeda yang saya miliki sangat keren dari sepeda manapun yang pernah saya lihat di jalanan.

Bukan sekali itu saja Bapak coba meyakinkan saya. Anda tentu tahu, dulu Tanjung Priok terkenal menjadi langganan banjir, begitu pula dengan daerah sekitar rumah orangtua saya. Meski sekarang tak lagi menjadi langganan banjir, teman-teman selalu menanyai saya jika mereka mendengar ada kawasan di wilayah Jakarta yang terkena banjir. Seolah-olah kalau di sana banjir, wilayah rumah saya juga terkena banjir. Padahal, sumpah deh, nggak kena banjir kok!

Baiklah, kita kembali ke masa kecil saya. Hujan yang turun terus menerus selain menyebabkan banjir, juga membuat cuaca Tanjung Priok sangat dingin. Bapak memberikan saya sebuah mantel beludru merah bercapuchon, cantik sekali, saya suka dengan modelnya. Saking sukanya, hingga kini saya masih ingat modelnya.

Teman-teman sering menertawai saya ketika saya memakai mantel itu ke sekolah. Oh ya, saya lupa bercerita bahwa di bagian leher mantel tersebut ada bulu-bulu yang fungsinya menghangatkan leher. Ya, lagi-lagi Bapak membelikan saya mantel bekas buatan Jepang. Jepang yang memiliki musim dingin/salju mungkin tak terasa aneh jika terlihat ada orang yang memakai mantel tersebut di sana. Tapi, memakai sepatu boot karet dan mantel berbulu di kala banjir, terlihat aneh di mata teman-teman saya. “Mau ke mana lo, kayak orang Eskimo aja!” begitu kurang lebih teman-teman mengejek saya, sambil tertawa berderai-derai.

Kalau saya pikir sekarang, tentu saja itu pemandangan aneh. Kalau saya selebritas mungkin saya sudah dicaci maki para pengamat fesyen. Mengingatnya saja membuat saya malu bukan kepalang. Tapi, bukan itu yang saya rasakan ketika itu. Saat memberi saya mantel itu, seperti biasa dengan penuh keyakinan, Bapak meyakinkan saya bahwa itu mantel terkeren. Jadi, meski teman-teman meledek, saya cuek saja memakainya. Bahkan, di kelas sekalipun. Indoktrinasi Bapak membuat saya menjadi pribadi yang tak gampang minder oleh sesuatu yang sifatnya superfisial. Thanks, Dad!            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar