Jumat, 07 September 2012

LIBATKAN ALLAH

Pekan ini saya mendapat pencerahan dari beberapa teman. Dalam sebuah diskusi, bos saya bercerita, dari beberapa daerah konflik di Indonesia maupun negara yang pernah ia sambangi sebagai jurnalis, terkuak pengakuan dari para penduduk. “Ini (musibah) terjadi karena kami ‘jauh’ dari Allah.”

Ramadhan lalu, teman saya juga bercerita bahwa insiden ia mencintai pria yang salah terjadi karena ia tak melibatkan Allah dalam proses ‘mengenal’ pria tersebut.

Kisah perselingkuhan yang pernah saya dengar pun berakhir pada konklusi: semua pihak yang terlibat dalam perselingkuhan, ‘jauh’ dari Allah. Konsekuensi logisnya, kalau mereka ‘dekat’ dengan Allah, mana mungkin mereka berani melanggar mitsaqan ghaliza (sebuah perjanjian yang kuat, yang bahkan tak hanya disaksikan oleh manusia, tapi juga Allah).

Saya juga kaget (ketahuan banget jarang baca hadist) ketika melihat hadist berikut ini:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Hendaklah di antara kalian bermohon kepada Tuhan-Nya menyangkut seluruh hajatnya, walaupun berkaitan dengan sandalnya yang putus.”

Allah Yang Maha Kaya juga senang dimintai dan Dia marah bila tak dimintai. Bahkan, malu jika tak mengabulkan permohonan hamba-Nya. Seperti dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Kalian mintalah kepada Allah dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah senang untuk diminta.” (HR Tirmidzi dan Abu Nu’aim). “Siapa yang tidak berdoa kepada Allah maka Allah murka kepadanya.” (HR Tirmidzi). “Indeed, Allah is Shy and Beneficent. He is Shy when His servant raises his hands to Him in dua to return them empty [Ahmad].” Ya, Allah ‘malu’ untuk tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya dengan tulus.

Subhanallah, Allah Maha Baik. Saya pun terlarut dalam sebuah kontemplasi, seberapa sering saya melibatkan Allah dalam setiap keputusan yang saya buat? Rasanya tidak sering. Semoga Allah berkenan mengampuni saya. Astaghfirullah.

Ya, tak peduli seberapa cerdas ataupun penuh perhitungannya kita, siapa yang bisa menjamin kita tak bakal membuat keputusan yang salah? Seberapapun hati-hatinya kita dalam mengambil tindakan, siapa yang bisa menjamin kita tidak akan salah langkah? Seberapa banyak hal yang kita tahu? Sedikit. Karena sebanyak apapun yang kita pikir ketahui, lebih banyak yang tidak kita ketahui. Apalah arti pengetahuan kita dibanding pengetahuan Allah. Allah Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak. Lantas, apa yang membuat kita merasa berhak untuk tak melibatkan Allah dalam setiap urusan kita? Tak ada.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita ke jalan yang benar yah. Amiiiin.

1 komentar:

  1. Aamiin... yap betul banget, secara gw udah mengalaminya. jauh dari Allah swt itu enggak enak banget. Allah Yang Maha Tahu keadaan setiap diri ini. Jadi, kudu melibatkan Allah dalam setiap langkah kita. mudah-mudahan kita selalu istiqamah ya....

    BalasHapus