Jumat, 21 September 2012



ADIKSI TRAVELING

Saya kecanduan traveling! Saya tak bermaksud bersikap lebay tatkala mengatakan itu. Sungguh, saya merasakannya usai berlibur ke Korea Selatan. Beberapa minggu setelah pulang ke Tanah Air, saya masih tidak bisa berada di rumah seharian. Padahal, biasanya saya suka banget di rumah, malah seringkali saya bekerja di rumah.

Gejala kecanduan yang pertama adalah setiap hari merasa harus ke luar rumah. Entah itu ke kantor, mal dekat rumah, minimarket, pasar, masjid, salon, dan sebagainya. Pokoknya, jalan-jalan deh. Ciri kecanduan yang ke dua adalah setiap kali ketemu teman, saya selalu bercerita tentang perjalanan saya ke Korea, entah diminta atau tidak diminta, hehehe...nyebelin banget yah. Hasilnya, beberapa teman yang merasa “dikompori” oleh saya, tertarik juga untuk pergi ke Korea.  

Gejala kecanduan ke tiga, saya mulai berkoar pada teman-teman mengenai negara yang akan menjadi destinasi wisata berikutnya, seraya berupaya keras untuk menabung. Saya juga makin rajin membeli buku dan majalah yang membahas tempat wisata. Pun, selalu memohon pada Allah agar diberi kesempatan lagi plesiran ke luar negeri maupun dalam negeri.

Oh ya, saya juga menyadari, rupanya gejala kecanduan juga dibarengi dengan kegilaan. Ditandai dengan seringnya berhalusinasi. Setiap kali melewati toko yang menjual koper dan ransel, saya selalu merasa mereka memanggil saya seraya memohon, “Beli kami, beli kami…” Tak ingin mengacuhkan mereka, akhirnya saya menghampiri koper dan ransel yang berjejer di etalase. Dan begitu melihat harganya, kesadaran saya mulai pulih. Di atas 3 juta, Sis!

Kalau sudah begini, rasanya saya ingin mengutip perkataan Dayang Sumbi (keterangan: kalimat sudah disesuaikan dengan kebutuhan), “Siapa yang mau membelikan saya koper Samson (nama disamarkan untuk menghindari publikasi-red) bila berjenis kelamin laki-laki akan saya jadikan kacung, jika perempuan akan saya jadikan babysitter keponakan saya.”

Gejala kecanduan berikutnya adalah mulai mengorelasikan berbagai kejadian sebagai pertanda bahwa saya harus berkunjung ke negara tersebut. Contohnya, ketika bertandang ke Museum Kimchi di Seoul saya bertemu dengan seorang bapak dari Turki. Di akhir obrolan kami, dia menawarkan saya untuk mampir ke rumahnya jika suatu saat saya ke Turki. Ia berpikir saya akan cocok berteman dengan anaknya, yang usianya tak jauh beda dengan saya. Wah, unyu-unyu dong!       

Terakhir, saya mulai berpikir untuk mengklasifikasikan pakaian saya berdasarkan empat musim. Landasan pemikirannya sih, biar kalau traveling lagi, entah ke negara mana pun itu, saya tak perlu mikir lagi mau bawa baju yang mana saat packing.

Efek dari kecanduan traveling, saya menjadi mengerti mengapa ada orang yang nekad berhenti bekerja dan memutuskan jalan hidup menjadi traveler. Finally, setelah traveling ke empat negara, saya menyadari satu hal yang tak kalah penting, yakni pelajarilah gaya berpose. Karena setelah diperhatikan, pose saya kok kalau nggak miring ke kiri ya miring ke kanan. Kalo lagi beruntung sih nyontek pose turis yang lagi foto di spot yang sama. Nah, kalo kagak ada contohnya? Mati gaya-lah gue!    

  

Jumat, 07 September 2012

LIBATKAN ALLAH

Pekan ini saya mendapat pencerahan dari beberapa teman. Dalam sebuah diskusi, bos saya bercerita, dari beberapa daerah konflik di Indonesia maupun negara yang pernah ia sambangi sebagai jurnalis, terkuak pengakuan dari para penduduk. “Ini (musibah) terjadi karena kami ‘jauh’ dari Allah.”

Ramadhan lalu, teman saya juga bercerita bahwa insiden ia mencintai pria yang salah terjadi karena ia tak melibatkan Allah dalam proses ‘mengenal’ pria tersebut.

Kisah perselingkuhan yang pernah saya dengar pun berakhir pada konklusi: semua pihak yang terlibat dalam perselingkuhan, ‘jauh’ dari Allah. Konsekuensi logisnya, kalau mereka ‘dekat’ dengan Allah, mana mungkin mereka berani melanggar mitsaqan ghaliza (sebuah perjanjian yang kuat, yang bahkan tak hanya disaksikan oleh manusia, tapi juga Allah).

Saya juga kaget (ketahuan banget jarang baca hadist) ketika melihat hadist berikut ini:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Hendaklah di antara kalian bermohon kepada Tuhan-Nya menyangkut seluruh hajatnya, walaupun berkaitan dengan sandalnya yang putus.”

Allah Yang Maha Kaya juga senang dimintai dan Dia marah bila tak dimintai. Bahkan, malu jika tak mengabulkan permohonan hamba-Nya. Seperti dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Kalian mintalah kepada Allah dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah senang untuk diminta.” (HR Tirmidzi dan Abu Nu’aim). “Siapa yang tidak berdoa kepada Allah maka Allah murka kepadanya.” (HR Tirmidzi). “Indeed, Allah is Shy and Beneficent. He is Shy when His servant raises his hands to Him in dua to return them empty [Ahmad].” Ya, Allah ‘malu’ untuk tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya dengan tulus.

Subhanallah, Allah Maha Baik. Saya pun terlarut dalam sebuah kontemplasi, seberapa sering saya melibatkan Allah dalam setiap keputusan yang saya buat? Rasanya tidak sering. Semoga Allah berkenan mengampuni saya. Astaghfirullah.

Ya, tak peduli seberapa cerdas ataupun penuh perhitungannya kita, siapa yang bisa menjamin kita tak bakal membuat keputusan yang salah? Seberapapun hati-hatinya kita dalam mengambil tindakan, siapa yang bisa menjamin kita tidak akan salah langkah? Seberapa banyak hal yang kita tahu? Sedikit. Karena sebanyak apapun yang kita pikir ketahui, lebih banyak yang tidak kita ketahui. Apalah arti pengetahuan kita dibanding pengetahuan Allah. Allah Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak. Lantas, apa yang membuat kita merasa berhak untuk tak melibatkan Allah dalam setiap urusan kita? Tak ada.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita ke jalan yang benar yah. Amiiiin.