Jumat, 31 Agustus 2012

PENGECUT LUAR BIASA

Pemberani atau pengecutkah Anda? Kontemplasi saya Ramadhan lalu melahirkan konklusi: saya adalah seorang pengecut. Ada satu peristiwa yang membuat saya kian meyakini hal itu. Hari itu saya memutuskan untuk berbuka puasa di restoran favorit saya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta. Mengingat restoran selalu penuh saat waktu berbuka puasa tiba, saya memutuskan untuk makan usai shalat magrib. Meski masih cukup banyak orang yang makan, tapi paling tidak saya bisa mendapatkan tempat duduk.

Sambil menunggu pesanan makanan datang, saya memperhatikan keadaan sekeliling. Para pramusaji sibuk hilir mudik mengantarkan maupun mencatat pesanan pelanggan. Karyawan di bagian dapur pun tak kalah sibuk (saya duduk tak terlalu jauh dari dapur). Saya bergumam dalam hati, “Kasihan sekali mereka sibuk melayani kebutuhan perut para pelanggan. Sudahkah mereka berbuka puasa?”

Setelah agak lama menunggu, alhamdulillah, tiba pula giliran saya menyantap makanan. Saat makan, saya teringat sesuatu. Buru-buru saya melihat jam di ponsel, waktu menunjukkan pukul 18.50, itu berarti sebentar lagi waktu isya akan tiba. Saya melongok ke bagian dapur, terlihat seorang supervisor tengah menyantap makanan sambil berdiri, agaknya dia baru sempat makan. Saya lihat lagi ke arah dapur, wah sempit sekali, rasanya tak mungkin ada ruang bagi mereka untuk shalat di dapur.

Saya mulai gelisah, karena pramusaji-pramusaji yang ada masih tetap orang yang sama yang saya lihat ketika datang. Sudahkah mereka shalat magrib? Sudahkah mereka mendahulukan kewajiban pada Allah daripada kepada manusia? 

Saya memanggil salah seorang pramusaji dan bertanya padanya apakah dia sudah shalat magrib? Dia menjawab, “Belum”. Karena sibuk melayani pelanggan yang berbuka puasa, dia tak sempat shalat. Saya bilang padanya, shalat itu wajib dan ibadah yang pertama kali akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Saya bertanya padanya, mungkinkah bosnya yang melarang ia untuk shalat? Saya akan melaporkannya ke dinas terkait kalau itu yang terjadi.

Benarkah itu semua saya katakan dan lakukan? TIDAK. Semua itu hanya fantasi yang menari dalam benak saya. Realitanya, saya hanya diam hingga waktu isya tiba, makanan saya habis, lalu pergi meninggalkan restoran.

Ketika akan pulang, dalam mikrolet saya duduk di bagian paling belakang, berhadap-hadapan dengan pasangan muda-mudi yang tengah pacaran. Si perempuan terus memegang dan mengelus tangan si lelaki. Berbicara dengan manja dan sesekali memegang wajah sang lelaki.

Saya bertanya, apakah mereka sudah menikah? Mereka jawab, belum menikah. “Apa kalian tahu yang kalian lakukan itu perzinaan?” kata saya. “Apa urusan lo? Urus aja urusan lo sendiri. Mau berzina atau nggak itu urusan gue ama pacar gue. Apa hak lo ngelarang-larang!” ujar si lelaki dengan sengit.

Benarkah itu yang terjadi? TIDAK! Itu hanya kemungkinan-kemungkinan yang saya pikirkan dalam benak, jika saya benar-benar ‘menginterupsi’ tindakan mereka pacaran di dalam angkot.

Nyatanya, lagi-lagi saya hanya diam dan ngedumel dalam hati, tanpa pernah mengutarakan dan melakukan sesuatu yang menjadi tanggung jawab saya sebagai Muslim: amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf dan nahi munkar tidak pernah menjadi terpisah. Artinya, kita tidak bisa hanya amar ma’ruf, tapi tak nahi munkar, atau sebaliknya. Keduanya harus kita lakukan.

Lalu apa yang saya lakukan? Saya hanya melihat mereka dan setelah beberapa lama saya tak tahan melihat pemandangan di depan mata, saya mengalihkan pandangan ke arah lain (baca: melengos). Begitu penumpang-penumpang di deretan saya mulai turun, saya pilih bergeser tepat di belakang sopir, menjauh dari pasangan muda-mudi itu. Ya, saya pilih untuk menghindar. Betapa lemahnya iman saya. Saya kesal luar biasa pada diri saya. Mendadak saya malu pada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, layakkah saya disebut ummat Nabi Muhammad? Kenyataannya, saya hanya membuat beliau malu saja.

Saya iri dengan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam. Ketika paman Rasulullah, Abu Thalib, menyampaikan pesan para  petinggi kaum Quraisy agar Muhammad bersedia menghentikan da’wah Islam atau mereka akan memerangi Muhammad, dengan tegas dan berani beliau berujar, “Wahai pamanku, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini, sama sekali aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”  

Saya iri dengan sahabat Rasulullah yang luar biasa pemberani dalam menegakkan ajaran Islam, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Bahkan, setan pun takut padanya. Saya iri dengan Khalid bin Walid, ksatria gagah berani yang bergelar “Saifullah” (pedang Allah yang terhunus) dan sangat disegani musuh-musuhnya.        

Ya, pada akhirnya saya hanya bisa iri, karena tak memiliki keberanian sebesar mereka…. Ampuni saya, ya Allah!

Jumat, 24 Agustus 2012

ROMANTIS ABIS

Apa makna romantis untuk Anda? Seumur hidup saya belum pernah merasakan punya pacar, apalagi bersuami. Tapi saya sering merasakan hal-hal romantis dalam hidup saya. Ya, entah kenapa Allah memberi saya teman-teman yang super romantis. Suatu malam, ketika saya tengah sedih, tiba-tiba seorang teman nun jauh di Indonesia bagian timur mengirimkan SMS yang isinya cuma: “I miss you, Ly. I love you”. Seketika rasa sedih saya hilang, tak menyangka ada seorang teman yang tengah merindukan dan memikirkan saya. Saya menjadi tersadar untuk mensyukuri apa yang saya miliki, bukan selalu ‘terganggu’ dengan apa yang tak saya miliki. 

“Ini Ly buat lo, waktu ke mal gue liat cokelat ini tiba-tiba inget lo.” Entah berapa kali saya mengalami ini, menerima cokelat favorit saya hanya karena mereka mengingat kecintaan saya pada cokelat itu dan langsung membelikannya untuk saya. Suatu ketika, bos saya menyodorkan wajik ketan berbalut daun jagung kegemaran saya. Saya tak menyangka dia ingat saya pernah bilang suka wajik itu.    

“Waktu liat baju ini entah kenapa gue merasa baju ini emang ‘dibuat’ untuk lo. Jadi, gue beli deh.” Beberapa teman juga acap menghadiahkan baju, jilbab, bros dan entah apa lagi untuk saya. Atau, ketika saya tengah masuk angin, tiba-tiba seorang teman mendatangi meja kerja saya dengan membawa segelas teh hangat. Ketika saya mengalami masa buruk, teman-teman saya mengejar ke tempat saya ‘melarikan diri’ dan memeluk erat saya. 

Atau, ketika seorang teman dengan sabar ‘menerima’ kegilaan saya pada Hyun Bin. Bayangkan, menjelang tengah malam −ketika orang seharusnya sudah tidur− teman baik saya masih setia menanggapi ocehan saya mengenai kecintaan dan kekhawatiran saya pada Hyun Bin. Gila, gak penting banget kan? Tapi, dia dengan sungguh-sungguh menanggapi ocehan saya, seolah itu hal yang penting dan menarik juga buat dia. Dia terus menemani sampai akhirnya saya lelah mengoceh dan tertidur. 

Juga, ketika orang-orang yang baru saya kenal rela meluangkan waktunya untuk mendoakan saya. Mendapat sapaan ramah dari tetangga ketika ke luar rumah, memperoleh pelukan dan senyuman manis dari keponakan tercinta, saat seseorang rela berdiri dan memberikan tempat duduknya di bis, atau ketika seseorang tiba-tiba memayungi saya di tengah rintik hujan. Buat saya, apa yang mereka lakukan itu sangat romantis. Karena romantisisme dalam perspektif saya: sesuatu yang dilakukan seseorang yang mampu membuat kita bahagia. Tak peduli sekecil apapun itu di mata orang kebanyakan, buat saya itu sangat berharga.   

Tapi, ada kalanya juga saya mengalami hal-hal yang sama sekali tak romantis. Salah satunya, terjadi saat saya SMA. Ketika tengah duduk di dalam bis dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah, seorang lelaki di sebelah saya mengajak berkenalan. Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang suka berkenalan dengan pria di dalam moda transportasi. 

Meski ogah-ogahan, saya tetap menyebutkan nama saya. Tentu saja dia juga menyebutkan namanya. Entah kenapa, sepertinya dia memahami ketidakpedulian saya sebagai manifestasi ketidakpercayaan saya akan kebenaran namanya. Kemudian dia coba meyakinkan kembali bahwa itu benar namanya. Sejurus kemudian, ia mengeluarkan KTP untuk menjustifikasi pernyataannya. 

Meski saya sudah menunjukkan sikap tak tertarik, dia tetap saja mengajak ngobrol. Ketika kernet bis meminta ongkos dari para penumpang, dia membayari saya. Jelas saja saya tolak. Pertama, saya tidak kenal dia. Ke dua, saya mampu membayar. Aduh, lelaki ini benar-benar membuat saya ‘lelah’. Ternyata penderitaan saya belum berakhir. Tiba-tiba saja dia mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu. Bak penyair, dia membacakan puisi yang ia tulis. Anda tahu judulnya? Bidadari. Menurut dia, “bidadari” sangat cocok merepresentasikan sosok saya. Ya ampuuuun, nih cowo hidup di zaman apa sih? Apa dia pikir hal kayak gitu bisa bikin perempuan tersanjung? Saya benar-benar dibuat takut oleh ulahnya.   

Ketika saya menceritakan ini pada teman saya, reaksinya benar-benar membuat saya bengong, “Ya ampun Ly, romantis banget sih?” Respon saya, “Lo gila yah? Gimana bisa seseorang yang nggak gue kenal dan nggak kenal gue menilai gue sebagai seorang bidadari? Kalau mau gombal, kira-kira dong!” Tapi, tetap saja teman saya mengeluarkan ekspresi kekaguman luar biasa dan berharap dia mengalami hal serupa. Saya yakin itu efek dari kesukaannya menonton film romantis.                  

Kamis, 16 Agustus 2012

MINDER AKUT

Seorang teman baik punya penyakit minder yang cukup akut. Belum pernah saya bertemu dengan orang yang tak hanya merasa dirinya berwajah jelek, tapi juga sekuat tenaga meyakinkan orang lain bahwa ia jelek. Saya sampai terbingung-bingung. Karena di mata saya, dia sangat cantik. Percaya deh sama penilaian saya. Dalam soal penampilan fisik, mata saya sangat akurat dan selera saya cukup tinggi, jiaaaah….
Saya heran karena saya bukan tipe orang yang gampang minder, meski juga bukan insan yang memiliki kepercayaan diri tinggi. Orangtua, terutama Bapak, berperan mendidik saya menjadi pribadi yang tidak gampang minder.

Bapak tidak berpendidikan formal tinggi, bukan pula lahir dari keluarga kaya, mungkin justru itulah yang membuat ia menjadi seorang pekerja keras. Sejak muda ia sudah berdagang, yang paling saya ingat dari ceritanya adalah ketika ia menjual pakaian dalam wanita dan dagangannya diobrak-abrik oleh petugas keamanan. Sedih sekali membayangkan ia memungut satu per satu bra dan celana dalam wanita yang berhamburan di jalanan.

Meski ketika kecil kami hidup sederhana, Bapak tak pernah membiarkan kami menjadi anak yang minder karena apa yang tidak kami punya. Bapak punya cara sendiri untuk memenuhi keinginan kami. Ketika kami ingin memiliki sepeda seperti anak-anak lainnya, Bapak membelikan kami sepeda bekas asal Jepang. Ketika saya kecil −sekitar tahun ’80-an di Tanjung Priok tempat tinggal saya− banyak beredar barang-barang bekas asal Jepang. Tak seperti sekarang yang dibanjiri produk China, di masa saya kecil produk yang dominan dipakai orang adalah buatan Jepang karena dianggap berkualitas tinggi.

Awalnya saya kesal, bukan saja lantaran itu sepeda bekas, tapi juga karena kedua rodanya kecil sekali. Anda pernah melihat sepeda statis yang biasa digunakan di tempat-tempat fitnes? Beroda kecil, kan? Nah, seperti itulah roda sepeda yang saya punya. Di era sepeda lipat seperti sekarang mungkin tak terlalu aneh, tapi bayangkan itu terjadi di tahun ’80-an. Sungguh pemandangan yang tak lazim.

Imbasnya, saya selalu jadi bahan tertawaan, gunjingan, atau yang paling sopan sih orang-orang melihat dengan pandangan aneh saat saya mengendarai sepeda. Ketika saya menceritakan hal itu pada Bapak, dengan tenang ia hanya bilang, “Ali (panggilan kecil saya) harus bangga karena cuma Ali yang punya sepeda kayak gitu.” Meski masih kesal, saya coba untuk mempercayai Bapak dan meyakinkan diri bahwa sepeda yang saya miliki sangat keren dari sepeda manapun yang pernah saya lihat di jalanan.

Bukan sekali itu saja Bapak coba meyakinkan saya. Anda tentu tahu, dulu Tanjung Priok terkenal menjadi langganan banjir, begitu pula dengan daerah sekitar rumah orangtua saya. Meski sekarang tak lagi menjadi langganan banjir, teman-teman selalu menanyai saya jika mereka mendengar ada kawasan di wilayah Jakarta yang terkena banjir. Seolah-olah kalau di sana banjir, wilayah rumah saya juga terkena banjir. Padahal, sumpah deh, nggak kena banjir kok!

Baiklah, kita kembali ke masa kecil saya. Hujan yang turun terus menerus selain menyebabkan banjir, juga membuat cuaca Tanjung Priok sangat dingin. Bapak memberikan saya sebuah mantel beludru merah bercapuchon, cantik sekali, saya suka dengan modelnya. Saking sukanya, hingga kini saya masih ingat modelnya.

Teman-teman sering menertawai saya ketika saya memakai mantel itu ke sekolah. Oh ya, saya lupa bercerita bahwa di bagian leher mantel tersebut ada bulu-bulu yang fungsinya menghangatkan leher. Ya, lagi-lagi Bapak membelikan saya mantel bekas buatan Jepang. Jepang yang memiliki musim dingin/salju mungkin tak terasa aneh jika terlihat ada orang yang memakai mantel tersebut di sana. Tapi, memakai sepatu boot karet dan mantel berbulu di kala banjir, terlihat aneh di mata teman-teman saya. “Mau ke mana lo, kayak orang Eskimo aja!” begitu kurang lebih teman-teman mengejek saya, sambil tertawa berderai-derai.

Kalau saya pikir sekarang, tentu saja itu pemandangan aneh. Kalau saya selebritas mungkin saya sudah dicaci maki para pengamat fesyen. Mengingatnya saja membuat saya malu bukan kepalang. Tapi, bukan itu yang saya rasakan ketika itu. Saat memberi saya mantel itu, seperti biasa dengan penuh keyakinan, Bapak meyakinkan saya bahwa itu mantel terkeren. Jadi, meski teman-teman meledek, saya cuek saja memakainya. Bahkan, di kelas sekalipun. Indoktrinasi Bapak membuat saya menjadi pribadi yang tak gampang minder oleh sesuatu yang sifatnya superfisial. Thanks, Dad!