Sabtu, 21 April 2012

Roti Panda

Seperti biasa, usai menerima gaji, saya menyambangi mal favorit di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Untuk apa? Ya, ‘hura-hura’ lah (baca: menikmati hasil jerih payah selama sebulan). Entah kenapa, saya punya kebiasaan sangat buruk. Sulit bagi saya, membendung syahwat untuk belanja, baik itu membeli baju, buku ataupun makanan. Sebagai lajang, pengeluaran saya memang hanya terfokus pada empat aspek, yakni entertainment, makanan, transportasi, dan sedikit mengeluarkan biaya listrik (agar tak dianggap parasit karena masih nyaman numpang sama orangtua, hehehehe…). 

Seperti biasa pula, di mal itu saya tak lupa membeli roti di toko roti favorit saya. Datang agak siang, saya sempat khawatir juga roti cokelat kegemaran saya habis. Karena biasanya, itulah yang terjadi. Agaknya, bukan hanya saya penggemar roti cokelat di sana. Maka, begitu sampai mal saya langsung menuju bakery shop tersebut. Syukurlah, stok roti kegemaran saya masih banyak. Setelah menyambar habis semua roti cokelat yang ada di etalase, tak sengaja mata saya tertuju pada sebuah roti cokelat kecil berbentuk panda. Lucu juga, saya pikir. Masuklah, roti panda ‘imut’ (ukurannya lebih kecil dari roti lainnya) itu ke dalam nampan, ‘mingle’ dengan roti-roti lain yang sudah saya pilih. 

Dalam perjalanan pulang, seorang anak perempuan usia sekolah (mungkin sekitar kelas 3 SD) mengamen di bis yang saya tumpangi. Sejujurnya, melihat seorang anak kecil mengamen (apalagi  jika itu mereka lakukan di malam hari) tak pernah membuat saya bahagia. Banyak sekali hal yang saya pikirkan. Apakah kemiskinan yang memaksa orangtua mereka membiarkan anak-anak itu mengamen di jalanan? Atau mereka dipaksa oleh oknum tak bertanggung jawab yang meraup keuntungan dari anak-anak tak berdosa ini? Kenapa para pejabat negara sangat asyik menikmati uang haram dan tak peduli pada nasib anak-anak ini? Dan, kenapa saya hanya bisa mengeluh dan tak berbuat apa-apa? Menyebalkan!

Sejujurnya, saya tak terlalu memperhatikan lagu yang ia nyanyikan, saya asyik terjun dalam samudera pikiran dan menyelami berbagai masalah yang saya hadapi kala itu. Ketika tiba waktu ia meminta uang kepada para penumpang, saya memberi roti panda ‘imut’ itu padanya. Saya memang lebih suka memberi makanan (roti, biskuit, cokelat dan sebagainya) atau susu kepada para pengamen cilik ketimbang uang. Saya tidak senang membayangkan preman-preman jahat yang mengeksploitasi mereka menikmati uang hasil jerih payah anak-anak itu. Maka, saya berikan saja mereka makanan atau susu agar bisa mereka nikmati sendiri. 

Reaksi gadis kecil itu ketika menerima roti pemberian saya sungguh di luar dugaan. Ia terlihat sangat senang, seraya tersenyum dan memandang saya, ia mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh. Tak hanya itu, gadis cilik itu terus memandangi roti itu dan tersenyum sendiri. Terlihat jelas bahwa ia sangat senang dan sepertinya sangat sayang untuk memakannya. Berkali-kali saya memergokinya mencuri-curi pandang ke arah saya. Saat saya menoleh padanya, ia tersenyum sambil menunduk malu. Senyum yang manissssssss sekali. Senyum yang seketika menghapus segala lara yang ada dalam benak saya. 

Baru kali ini saya mendapat respon seperti itu. Sejujurnya, saya masih tidak mengerti mengapa Allah begitu baik pada saya, memberi saya kesempatan untuk merasakan kebahagiaan tiada tara melalui sepotong roti yang hanya seharga Rp.2500,-. Sesungguhnya, saya merasa tak pantas mendapatkan anugerah seindah itu: senyum tulus dan tatapan penuh rasa terima kasih dari seorang gadis cilik hanya karena sepotong roti yang saya berikan padanya. Dua tahun berlalu sejak kejadian itu, namun tak pernah saya melupakannya… Terima kasih, Dik! Semoga Allah memberimu hidup yang lebih baik!       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar