LIBATKAN ALLAH
Pekan ini saya mendapat pencerahan dari beberapa teman.
Dalam sebuah diskusi, bos saya bercerita, dari beberapa daerah konflik di
Indonesia maupun negara yang pernah ia sambangi sebagai jurnalis, terkuak
pengakuan dari para penduduk. “Ini (musibah) terjadi karena kami ‘jauh’ dari
Allah.”
Ramadhan lalu, teman saya juga bercerita bahwa insiden ia
mencintai pria yang salah terjadi karena ia tak melibatkan Allah dalam proses ‘mengenal’
pria tersebut.
Kisah perselingkuhan yang pernah saya dengar pun berakhir
pada konklusi: semua pihak yang terlibat dalam perselingkuhan, ‘jauh’ dari
Allah. Konsekuensi logisnya, kalau mereka ‘dekat’ dengan Allah, mana mungkin mereka
berani melanggar mitsaqan ghaliza (sebuah
perjanjian yang kuat, yang bahkan tak hanya disaksikan oleh manusia, tapi juga
Allah).
Saya juga kaget (ketahuan banget jarang baca hadist) ketika
melihat hadist berikut ini:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Hendaklah di antara kalian bermohon kepada
Tuhan-Nya menyangkut seluruh hajatnya, walaupun berkaitan dengan sandalnya yang
putus.”
Allah
Yang Maha Kaya juga senang dimintai dan Dia marah bila tak dimintai. Bahkan,
malu jika tak mengabulkan permohonan hamba-Nya. Seperti dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Kalian
mintalah kepada Allah dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah senang untuk diminta.”
(HR Tirmidzi dan Abu Nu’aim). “Siapa yang tidak berdoa kepada Allah maka Allah
murka kepadanya.” (HR Tirmidzi). “Indeed, Allah is Shy and Beneficent.
He is Shy when His servant raises his hands to Him in dua to return them empty
[Ahmad].” Ya, Allah ‘malu’ untuk tidak mengabulkan
permintaan hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya dengan tulus.
Subhanallah,
Allah Maha Baik. Saya pun terlarut dalam sebuah kontemplasi, seberapa sering
saya melibatkan Allah dalam setiap keputusan yang saya buat? Rasanya tidak
sering. Semoga Allah berkenan mengampuni saya. Astaghfirullah.
Ya, tak peduli seberapa cerdas ataupun
penuh perhitungannya kita, siapa yang bisa menjamin kita tak bakal membuat
keputusan yang salah? Seberapapun hati-hatinya kita dalam mengambil tindakan,
siapa yang bisa menjamin kita tidak akan salah langkah? Seberapa banyak hal
yang kita tahu? Sedikit. Karena sebanyak apapun yang kita pikir ketahui, lebih
banyak yang tidak kita ketahui. Apalah arti pengetahuan kita dibanding pengetahuan
Allah. Allah Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak. Lantas, apa yang membuat
kita merasa berhak untuk tak melibatkan Allah dalam setiap urusan kita? Tak
ada.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita ke jalan yang benar
yah. Amiiiin.
Aamiin... yap betul banget, secara gw udah mengalaminya. jauh dari Allah swt itu enggak enak banget. Allah Yang Maha Tahu keadaan setiap diri ini. Jadi, kudu melibatkan Allah dalam setiap langkah kita. mudah-mudahan kita selalu istiqamah ya....
BalasHapus