ADIKSI TRAVELING
Saya kecanduan traveling! Saya tak bermaksud bersikap lebay
tatkala mengatakan itu. Sungguh, saya merasakannya usai berlibur ke Korea
Selatan. Beberapa minggu setelah pulang ke Tanah Air, saya masih tidak bisa
berada di rumah seharian. Padahal, biasanya saya suka banget di rumah, malah seringkali
saya bekerja di rumah.
Gejala kecanduan yang pertama adalah setiap hari merasa harus
ke luar rumah. Entah itu ke kantor, mal dekat rumah, minimarket, pasar, masjid,
salon, dan sebagainya. Pokoknya, jalan-jalan deh. Ciri kecanduan yang ke dua
adalah setiap kali ketemu teman, saya selalu bercerita tentang perjalanan saya
ke Korea, entah diminta atau tidak diminta, hehehe...nyebelin banget yah.
Hasilnya, beberapa teman yang merasa “dikompori” oleh saya, tertarik juga untuk
pergi ke Korea.
Gejala kecanduan ke tiga, saya mulai berkoar pada
teman-teman mengenai negara yang akan menjadi destinasi wisata berikutnya,
seraya berupaya keras untuk menabung. Saya juga makin rajin membeli buku dan
majalah yang membahas tempat wisata. Pun, selalu memohon pada Allah agar diberi
kesempatan lagi plesiran ke luar negeri maupun dalam negeri.
Oh ya, saya juga menyadari, rupanya gejala kecanduan juga
dibarengi dengan kegilaan. Ditandai dengan seringnya berhalusinasi. Setiap kali
melewati toko yang menjual koper dan ransel, saya selalu merasa mereka
memanggil saya seraya memohon, “Beli kami, beli kami…” Tak ingin mengacuhkan
mereka, akhirnya saya menghampiri koper dan ransel yang berjejer di etalase.
Dan begitu melihat harganya, kesadaran saya mulai pulih. Di atas 3 juta, Sis!
Kalau sudah begini, rasanya saya ingin mengutip perkataan
Dayang Sumbi (keterangan: kalimat sudah disesuaikan dengan kebutuhan), “Siapa
yang mau membelikan saya koper Samson (nama disamarkan untuk menghindari
publikasi-red) bila berjenis kelamin laki-laki akan saya jadikan kacung, jika
perempuan akan saya jadikan babysitter keponakan saya.”
Gejala kecanduan berikutnya adalah mulai mengorelasikan berbagai kejadian sebagai pertanda bahwa saya harus berkunjung ke negara tersebut. Contohnya, ketika bertandang ke Museum Kimchi di Seoul saya bertemu dengan seorang bapak dari Turki. Di akhir obrolan kami, dia menawarkan saya untuk mampir ke rumahnya jika suatu saat saya ke Turki. Ia berpikir saya akan cocok berteman dengan anaknya, yang usianya tak jauh beda dengan saya. Wah, unyu-unyu dong!
Terakhir, saya mulai berpikir untuk mengklasifikasikan pakaian saya berdasarkan empat musim. Landasan pemikirannya sih, biar kalau traveling lagi, entah ke negara mana pun itu, saya tak perlu mikir lagi mau bawa baju yang mana saat packing.
Efek dari kecanduan traveling, saya menjadi mengerti mengapa
ada orang yang nekad berhenti bekerja dan memutuskan jalan hidup menjadi
traveler. Finally, setelah traveling ke empat negara, saya menyadari satu hal
yang tak kalah penting, yakni pelajarilah gaya berpose. Karena setelah
diperhatikan, pose saya kok kalau nggak miring ke kiri ya miring ke kanan. Kalo
lagi beruntung sih nyontek pose turis yang lagi foto di spot yang sama. Nah,
kalo kagak ada contohnya? Mati gaya-lah gue!
seru pisan euy... mangkanye ajak gw (fotografer profesional--hihi#peace), gayanye bakal tambah keren daahhh... :D
BalasHapusJangan mengungkit masa lalu deh, ampe sekarang gue masih kesel lo gak ikut ke Korea. Mudah2an di perjalanan berikutnya, dengan izin Allah, kita bisa pergi bersama yah. Amiiiin.
BalasHapus