PERAWAN TUA
Entah apa yang merasuki saya malam ini, tiba-tiba saja ingin
menulis. Wuih, sok kayak penulis. Padahal kalau ngerjain tugas untuk nulis
artikel aja malas minta ampun. Dua kata sedang mengusik saya dua hari ini. Terus
saja menari-nari di benak. Tepatnya sih setelah menonton serial Korea yang
berjudul “The Woman Who Want to Marry”. Mengisahkan tentang gadis berumur 34
tahun yang belum juga menikah. Dalam beberapa dialog, ia menyebut dirinya:
Perawan Tua.
Perawan Tua. Saya jadi ingat, beberapa tahun lalu, pernah
bertengkar dengan adik. Saking kesalnya dia, dan rupanya sudah kehabisan kata
untuk membuat saya sakit hati, ia lalu menyebut saya: PERAWAN TUA! Wuih, tak
terkira sakitnya hati saat itu. Bapak yang kebetulan mendengar pertengkaran
saya dengan adik, langsung memanggil adik untuk berbicara empat mata dengannya.
Bapak menasehatinya agar tak lagi mengatakan kata-kata menyakitkan itu pada
saya. Seingat saya, saya menangis tersedu-sedu saat itu. Tentu aja setelah
pertengkaran selesai, bukan di depan adik. Saya pantang nangis di depan lawan,
apalagi lelaki.
Dua hari ini, seperti telah saya sebut di awal, saya
menganalisa dan mulai memiliki persepsi berbeda tentang istilah PERAWAN TUA.
Begini teman, otak saya yang pas-pasan ini (biasanya ngaku cerdas! Huh! Alaah
itu kan strategi untuk menutupi kebodohan: yang celakanya justru makin
menunjukkan bodohnya saya! Ups, stop ngomong sendiri!) berpikir: apa salahnya
dengan menjadi PERAWAN? Ya, bukannya itu mulia? Menjaga kehormatan diri kan sesuatu
yang sangat mulia, diperintahkan agama lagee! Alaah, sok bawa-bawa agama, sok
religius!
TUA. Apa yang salah dengan menjadi tua? Menjadi tua adalah
sebuah fase yang akan dilalui oleh setiap mahluk. Fitrahnya emang begitu,
ceileee…. For your information, saya jarang banget merasa tua. Sampai suatu
hari ketika naik bis ke arah Depok, dan saya ingin turun di halte UI. Kernet
bis dengan keras berteriak pada sopir nun jauh di depan: “Tunggu, ibu-ibu mau
turun!” Gubrakk! Percuma aja gue dandan abis-abisan kayak mahasiswa. Rupanya
tampang gak bisa bohong, hehehe…
Lalu, apa yang salah dengan menjadi perawan dan tua? PERAWAN
TUA, dulu menjadi kata yang sangat saya takuti keluar dari mulut orang untuk
mengatai saya. Tapi kini itu tidak lagi menjadi kata yang menakutkan buat saya.
Coba saja katai saya: PERAWAN TUA! PERAWAN TUA! PERAWAN TUA!
29 Maret 2010. 20.09 wib.
Samaaa, gue juga pernah tuh, suatu hari melewati anak-anak yang main bola. Ngeliat gue mau lewat mereka langsung berhenti, sambil bilang, "eh, ntar dulu, ada ibu-ibu mau lewat". HaH! Iya deh anak-anakku...hehe. Allah udah ngatur ya, proses kita emang udah nyampe sini, jadi ibu-ibu.:) Alhamdulillah.... Tetap semangaaatt...Pangeran kita lagi menyiapkan sesuatu yang iiiistimewaaaa tuk kita seorang. ;)
BalasHapus