Jumat, 29 Agustus 2014


A Dream Has Come True

Sejujurnya, salah satu alasan saya memilih profesi sebagai jurnalis adalah agar bisa jalan-jalan keliling Indonesia dan luar negeri. Saya sama sekali tak punya bakat menulis. Bapak dan Emak pun pedagang. Singkatnya, saya sama sekali tak memiliki “darah” penulis atau jurnalis. Ketika SD pun, pelajaran yang paling saya benci adalah Mengarang. Keinginan untuk traveling-lah yang membuat saya ngebet menjadi jurnalis.

Pada akhirnya, cita-cita menjadi jurnalis pun tercapai dan saya bisa “jalan-jalan” ke beberapa kota di Indonesia dan luar negeri. Karena dalam rangka tugas, destinasi liputan pun ditentukan dalam rapat redaksi dengan berbagai pertimbangan. Sayangnya, Korea Selatan tak pernah masuk dalam daftar target liputan. Padahal, saya sangat ingin ke sana. Rasanya, tak ada teman dekat ataupun rekan kerja yang tak tahu mengenai ‘kegilaan’ saya pada Korea Selatan.

Saya akui, saya termasuk orang yang terjangkit virus Korea Wave. Semua bermula ketika saya mulai gandrung menonton serial K Drama di televisi. Selain para aktornya yang tampan dan betapa stylish-nya mereka, melalui drama serial Korea saya juga menyadari betapa indahnya Negeri Ginseng tersebut. Maka, mulailah muncul keinginan untuk menyambanginya.   

Waktu berlalu, tiba-tiba di suatu malam pada tahun 2011 saya mulai merenungi perjalanan hidup saya selama 34 tahun, ceileeee…. Esoknya, saya hubungi teman saya dan mulai mengoceh tentang pentingnya menjelajahi bumi Allah yang luas ini untuk merenungi kemahabesaran Allah melalui ciptaan-ciptaanNya. Dengan demikian, bertambahlah rasa syukur, menguat pula iman kita dan semoga itu menjadikan kita manusia yang lebih baik.

Akhirnya, rencana ke Korea yang semula untuk sekadar jalan-jalan menjadi rencana perjalanan penuh makna. Saya ingin menyambangi saudara sesama Muslim di negara yang mayoritas rakyatnya memilih tak beragama itu. Lantas, saya hubungi seorang teman yang juga hobi jalan-jalan dan pecinta Korea untuk sama-sama pergi ke Korea Selatan.

Tiket Murah

Langkah pertama yang kami lakukan untuk mewujudkan impian ke Korea adalah berburu tiket promo. Ya, tiket murah karena kami bukan orang berduit (kalau tidak mau dibilang kere abis). Kami pantengi website dan FB AirAsia agar tak kehilangan momen saat AirAsia melakukan promo tiket murah ke Korea. Alhamdulillah, berkat kegigihan dan kerelaan begadang (akibat berburu tiket promo AirAsia tengah malam) teman saya, ia berhasil mendapatkan tiket PP ke Korea hanya sebesar Rp1.890.000. Itu untuk rute Kuala Lumpur-Korea, Korea-Kuala Lumpur yah, dengan jadwal penerbangan bulan Juli tahun 2012. Ya, kami menunggu satu tahun untuk bisa ke Korea.

Terus terang saya bukan tipe orang yang bisa menabung. Ada saja justifikasi untuk mengambil uang simpanan di bank. Sehingga sistem membeli tiket untuk jadwal penerbangan tahun berikutnya cukup membantu saya untuk memaksakan diri menabung. Karena, saya menjadi punya tujuan jelas untuk apa bersikap irit. Apalagi saya dan teman akan berada di Korea selama delapan hari dan mengunjungi lima kota, seperti Seoul, Busan, Gwangju, Jeonju dan Yeosu. Jadi, butuh cukup uang di tabungan agar pihak kedutaan yakin kami bisa membiayai hidup kami selama di Korea.          

Backpacker-an Nih Ye?

Saat mengatakan pada rekan kerja bahwa saya akan ke Korea ala backpacker, dia spontan terbahak. Sepertinya agak absurd buat dia melihat saya bepergian hanya dengan satu ransel. “Inget gak waktu kita ke Yogya? Bawaan lo heboh banget, apalagi ke Korea?” ujarnya seraya memasang tampang tak percaya pada niat saya untuk menjadi backpacker.


Masuk akal juga sih ucapan teman saya ini. Sejujurnya, saya juga tak percaya hanya akan menggunakan satu ransel untuk menaruh seluruh keperluan saya selama delapan hari di Korea. Maka, berulangkali saya bertanya pada teman saya berapa pakaian dan apa saja yang akan dia bawa. Ketika berkemas, saya masih tidak percaya kalau akan memakai baju yang sama paling tidak tiga hari. 

Tiga Tuduhan

Ketika di Korea setidaknya saya menerima tiga tuduhan. Pertama, tempat kejadian perkara di Namsan Tower, Seoul. Saat tengah asyik memotret di bawah rintik hujan, seorang bapak menghampiri kami dan menawarkan diri bantu memotret kami. Setelah ngobrol, ternyata dia dan teman-temannya berasal dari Kalimantan. Mereka bekerja di sebuah perusahaan Korea yang beroperasi di Kalimantan.

Asyiknya, perusahaan tersebut setiap tahun menghadiahi karyawannya untuk berwisata ke Korea. Hadeuh, bikin iri aja nih Bapak-bapak. Ketika kami bilang pergi dengan biaya sendiri, serta merta dia menyangka kami banyak duit. Seumur hidup, baru kali ini saya dituduh orang kaya, hahahahaha…. Gara-gara tiket murah AirAsia, orang mengira kami kaya!

Tuduhan ke dua muncul ketika kami bertemu dengan segerombolan remaja Indonesia yang menetap di Singapura tatkala bertandang ke Namdaemun. Kami berbincang sebentar dan terkuaklah bahwa mereka baru saja mengunjungi beberapa agensi artis K Pop yang ada di sekitar Gangnam. Ketika kami bercerita bisa ke Korea karena mendapat tiket murah, mereka juga bilang dapat tiket murah dari sebuah maskapai penerbangan di Singapura. 
“Berapa?” tanya kami penasaran. “Sekitar 500 dolar,” kata salah seorang dari mereka. Jiaaaah, itu sih masih mahal. Saat kami bilang merencanakan perjalanan ini setahun sebelumnya, dengan penuh ekspresi kekaguman seorang dari mereka berkomentar, “Wah, K Popers sejati!” Gubrak!  

Kali lain saya dituduh mengerti bahasa Korea oleh teman seperjalanan saya sendiri. Bayangkan, betapa tidak masuk akalnya! Hehehe…. Tuduhan itu bermula karena saya kerap mengerti apa yang dikatakan orang Korea, yang tentu saja mereka berbahasa Korea dan saya menjawabnya dengan bahasa Inggris yang pas-pasan. Bukannya saya mengerti bahasa Korea, saya hanya cukup lihai menduga-duga.


Misalnya, ketika kami menaiki bis menuju Busan tiba-tiba kernet bis bertanya pada para penumpang dalam bahasa Korea. Tentu saja kami tak paham apa yang dia bicarakan. Namun, saya perhatikan jawaban para penumpang. Kok jawabannya berbeda-beda? Jadi saya menyimpulkan, mungkin pertanyaannya begini? “Anda mau turun di mana?” Maka, ketika si kernet bis bertanya, saya jawab, “Napo-dong.” Si kernet bis lalu mengangguk. Teman saya terbengong-bengong dan berujar, “Mbak, kok bisa sih lo sekonyong-konyong jawab Napo-dong. Emang Mbak ngerti?” Tentu saja saya jawab, “Kagak. Gue pake bahasa qalbu, hehehe….”


Begitu pula saat kami naik taksi di Jeonju. Si sopir terheran-heran dengan seorang nenek yang berkata berulang-ulang padanya agar mengantarkan kami ke terminal bis ekspres karena kami akan pergi ke Busan. Tatkala kami masuk dia berkata pada kami dengan bahasa Korea seraya menunjuk nenek itu. Lalu saya jawab dengan bahasa Inggris, “No, we don’t know her.” 
Teman saya bertanya, “Emang dia ngomong apa, Mbak?” Dengan penuh keyakinan saya bilang, “Dia nanya apa kita kenal nenek itu? Apa dia teman kita?” Tahukah Anda kata apa yang membuat saya menyimpulkan hal itu? Chingu (teman), yang sempat terlontar dari mulut si sopir taksi. Rasanya saya pernah dengar kata itu saat menonton K Drama.  

Ketika saya menceritakan pengalaman saya kepada seorang teman kantor, dia berujar, “Ya iyalah, percuma aja lo begadang nonton drama Korea kalau nggak ada sama sekali yang nyantol (di otak).” Hehehehe….


Pelajaran Berharga


Selama di Korea saya mengunjungi banyak tempat indah. Namun, kebahagiaan terbesar saya adalah ketika bertemu dan berbincang dengan saudara sesama Muslim di sana. Sangat menarik melihat perjuangan mereka mempertahankan aqidah dan itu memberi saya banyak pelajaran berharga.


Hal yang juga mulai saya pahami dari perjalanan saya adalah semakin kita sering menyambangi negara lain, kian cinta pula kita pada negeri sendiri. Rasa cinta pada Indonesia membuat kita ingin hal-hal baik yang kita lihat di negara lain terjadi pula di negeri kita. Insya Allah awal Desember saya dan seorang teman akan menyambangi Thailand dan Vietnam. Yap, itu hasil kami dapat tiket promo AirAsia tahun lalu!




1 komentar:

  1. huhuy....bikin ngiriiii.....kapan yahhh, gw bisa mewujudkan mimpi traveling bareng lo....;-)

    BalasHapus